Salah Siapa Berkacamata?


Berkacamata, Salah Siapa? Suatu hari, saya berbincang ringan dengan seorang teman seputar mata kami yang sama-sama minus. Saya waktu itu mengeluhkan mata minus saya yang disebabkan kebiasaan yang menurun dari orang tua saya. Secara genetik, menurut saya, ada kebiasaan-kebiasaan dari orang tua yang menurun ke saya sehingga membuat saya pada akhirnya harus memakai kacamata. Saat itu, saya bilang, karena saya meniru kebiasaan-kebiasaan orang tua, akhirnya mata saya pun ikut menjadi minus seperti orang tua, dan menyebabkan saya memakai kacamata. Rupanya, teman saya menganggap bahwa saya menyalahkan orang tua atas apa yang menimpa saya. Saya berkacamata disebabkan karena orang tua. Menurut teman saya, apapun yang buruk pada diri kita, itu bukan kesalahan orang tua kita. Orang tua tidak ada sangkut pautnya dengan keburukan yang ada pada diri kita.

Saya tentu mengamini pernyataan ini. Bahwa tak pantas kita menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa kita. Orang lain tidak berkontribusi apapun terhadap apa yang menimpa kita. Bukankah Allah juga berfirman,

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah datang dari Allah. Dan, apa saja bencana yang menimpamu, itu adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS an-Nisa [4]: 79).

Bencana besar sekalipun yang menimpa – tidak hanya seorang, tetapi juga – sebuah kaum, sebenarnya disebabkan karena perbuatan kaum itu sendiri (baik sebagian maupun seluruhnya). Ada atau tidak ada orang sholih di antara suatu kaum, bisa jadi Allah menimpakan suatu musibah terhadap kaum tersebut. Hanya saja, kelak mereka tetap dimintai pertanggungjawaban sesuai amal perbuatan mereka masing-masing. Bencana yang mematikan orang sholih dan fasiq bisa jadi sama, tetapi balasan di akhirat tentu berbeda.

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS al-Anfal [8]: 25).

Maka, ketika seseorang yang tertimpa suatu keburukan, memang pantas jika dia salahkan diri sendiri. Seseorang yang ditakdirkan mempunyai orang tua berpostur gemuk, lantas dirinya pun bertubuh gemuk, apakah dia lantas berhak menyalahkan orang tuanya? Jika kegemukan itu bisa dicegah dengan pola makan dan pola hidup yang sehat, tak pantas rasanya dia menyalahkan orang tuanya ketika akhirnya dia memilih pola makan dan hidup yang tak sehat.

Oleh karena itu, ketika saya berkacamata, tentu juga tak pantas menyalahkan orang tua. Saya lebih suka menyalahkan diri saya yang tidak mampu mengendalikan kebiasaan buruk di saat membaca atau aktivitas lain menggunakan mata saya.

Saat seseorang sadar dia memiliki potensi untuk berkacamata, atau bertubuh gemuk, dia bisa mencegah hal ini terjadi dengan cara-cara tertentu. Jika akhirnya dia berkacamata, atau menjadi gemuk, hal ini disebabkan karena kesalahannya sendiri yang tidak bisa menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkannya harus bertubuh gemuk dan mengenakan kacamata.

Hal ini juga berlaku dengan fitrah manusia. Setiap manusia dilahirkan dengan catatan amal yang bersih. Dia bisa memiliki catatan amal positif atau negatif, dan itu semua tergantung kepada dirinya, karena setiap orang dibekali dua hal, potensi kebaikan dan kejahatan. Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih antara kebaikan atau kejahatan, sebagaimana juga Allah memberikan kepada saya untuk menjaga kesehatan mata atau tidak. Dan ini tidak ada kaitannya dengan orang tua, walaupun saya bilang orang tua saya berkacamata.

Ketika saya bilang “kacamata yang saya pakai ini ada sangkut pautnya dengan orang tua saya yang memakai kacamata,” bukan berarti saya sedang menyalahkan orang tua atas takdir saya memakai kacamata. Tetapi, ini murni karena kesalahan saya yang memilih kebiasaan-kebiasaan jelek dan tidak menjaga kesehatan mata. Padahal, seandainya saya menjaga kesehatan mata, dan tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan jelek, bisa jadi Allah menghindarkan saya dari berkacamata. Tetapi disebabkan kesalahan saya sendirilah saya berkacamata.

Ketika seseorang mencuri, tidak berarti dia bisa menyalahkan Allah yang telah Memberikan Karunia berupa kecenderungan menuruti hawa nafsu. Tetapi, ketidakmampuan orang itu untuk mengendalikan hawa nafsunya-lah yang menyebabkannya celaka. Jangan salahkan Allah yang telah memberikan kita bekal berbuat jelek, tapi salahkan diri kita sendiri yang memilih menuruti bekal jelek tersebut, padahal Allah memampukan kita menghindari perbuatan tersebut melalui fitrah kebaikan.

…maka Allah membisikan kepada kalbu itu (pilihan) kefasikannya dan ketaqwaannya, betapa beruntung, orang yang menyucikan kalbunya, betapa merugi, orang yang mengotorinya…” (QS asy-Syams [91]: 8-10).

Dengan dasar itu, maka sepantasnya seseorang merutuki dirinya sendiri kala tertimpa musibah, atau saat terjerumus dalam perbuatan maksiat. Jangan salahkan orang lain, bahkan setan sekalipun.

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS Ibrahim [14]: 22).

Jadi, salah saya sendiri kenapa sampai berkacamata… (terima kasih, nasihatnya, teman)

-fadhlijauhari-

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s