ImageDi kehidupan ini, ada pengaruh yang baik dan pengaruh yang jahat. Mereka semua berlomba unjuk kekuatan dalam mempengaruhi kita. Di televisi-televisi, di koran-koran, di internet, di ponsel, kekuatan-kekuatan itu secara tak kasat mata mendorong orang untuk menirunya. Pornografi, pornoaksi, anarkisme, egoisme, bertarung dengan nilai-nilai kesantunan, kelembutan, gotong royong, dan membuat individu-individu berkonflik di dalam batinnya. Ke manakah hati menurut?

Sebagian tak kuasa menahan gejolak hati untuk menolak keburukan. Dan sebagian lagi memaksakan diri untuk bertahan dalam kebaikan yang seringkali tak enak. Betapa banyak wanita yang berghibah, meski tahu bahwa ghibah itu dosa, karena terdorong oleh perilaku ghibah teman-teman dekatnya. Dan betapa mungkin masih ada sebagian santri-santri, terutama di tahun-tahun awalnya, yang harus sabar menahan “tidak nyamannya” belajar di lingkungan yang penuh kedisiplinan seperti di pesantren.

Betapa masih ada karyawan/pejabat yang sebenarnya punya keinginan untuk berkata “tidak”, tetapi akhirnya tangannya tetap menerima atau memberikan uang pelicin karena lingkungan di sekitarnya sudah terlanjur terbiasakan hal demikian.

Betapa masih ada para remaja yang lurus, yang mau menahan gejolak mudanya, menahan diri dari perbuatan zina atau segala yang menjurus kepadanya, meski lingkungan di sekitar mungkin sudah sedemikian hancur.

Betapa masih ada yang lemah menuruti nafsu, menelantarkan akal, tapi juga ada yang menahan nafsu dan mengedepankan akal…

Sungguh menarik bagaimana Allah menilai manusia yang bijak.

Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (QS Az Zumar: 18)

Kata Profesor Yunahar Ilyas dalam tafsir ayat ini, orang yang bijak (Ulul Albab) adalah yang selalu bersikap kritis dalam mendengarkan pembicaraan, pandai menimbang-nimbang ucapan, teori, proposisi atau dalil yang dikemukakan oleh orang lain.

Jadi, kata saya, Ulul Albab bukan orang yang “buta”. Dia melihat dunia ini dengan segala realitasnya, baik dan buruknya. Bedanya, Ulul Albab punya “penglihatan”. Dia sudah mengetahui mana yang bisa diambil, dan mana yang harus ditolak mentah-mentah.

Maka, ketika air berubah asin, dia akan tetap seperti ikan yang tak latah menjadi asin segenapnya. Tidak ikut “terwarnai”. Inilah sosok Ulul Albab.

Teman-teman kita mungkin suka mengghibah, tapi kita tak boleh terpengaruh. Atau, mereka mungkin suka berkata jorok dan kasar, tapi kita tak boleh terpengaruh. Orang lain mungkin suka buang sampah sembarangan bukan pada tempatnya, tapi kita tidak ikut-ikutan.

Ajarkan pula kepada anak kita tentang mana yang harus ditiru, dan mana yang tidak boleh ditiru, sehingga mereka memiliki bekal menjadi Ulul Albab sejak dini. Inilah hikmah, karunia yang melimpah yang datangnya dari Allah. Konkretnya, ketika kita bersama anak menonton tv, berjalan di keramaian, jelilah melihat keadaan sekitar, karena barangkali ada sesuatu yang menarik perhatian sang anak. Pandulah anak, berikan “penglihatan”, mana yang baik untuk ditiru, mana yang tidak.

Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak, dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah) melainkan ulul albab (orang-orang yang memiliki akal kecerdasan).” (QS Al Baqoroh: 269)

Sementara mereka yang malas mendayagunakan akalnya, Allah sungguh marah. Lha wong sudah dikasih bekal berupa akal, mengapa tak “terpikirkan” untuk dipakai berpikir?

“Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS. Yunus: 100)

-fadhlijauhari-