Susahnya Jadi Orang Baik


vivanews.com/

Inilah sekarang, zaman yang banyak orang disebut zaman edan. Kata Ronggowarsito, kalau tidak ikut edan, tidak akan kebagian. Jadi, kalau mau kebagian dunia ini, harus ikut-ikutan edan, begitu kira-kira.

Malah ada yang bilang, nyari yang haram aja susah, apalagi nyari yang halal. Paling-paling yang bilang begini orang yang masang nomor togel tapi selalu gagal, makanya putus asa.

Di zaman ini, walau nilai-nilai agama mulai diangkat oleh banyak orang, tetap saja masih kalah dengan nilai-nilai keburukan yang makin hari makin meluas ke seluruh penjuru dunia. Beban kehidupan yang makin berat membuat banyak orang stress, gila, atau yang lebih parah; bunuh diri. BBM yang terus naik, biaya hidup pun demikian tinggi, menambah derita kaum miskin.

Televisi, walau ada acara agama yang sebenarnya bagus-bagus, masyarakat yang sudah terbebani beratnya kepelikan masalah hidup lebih suka hiburan instan. Acara komedi laris. Tapi sayang, komedinya selalu berkutat masalah mengejek fisik, atau yang menyerempet hal-hal porno. Komedi yang tak mendidik, bahkan merusak.

Sinetron pun selalu memberikan gambaran kehidupan yang kacau. Di dalam sinetron lebih banyak ditampilkan pemeran cantik, tampan, gaya hidup mewah, perebutan masalah harta, obral cinta anak muda, yang semua ini justru menjadi teladan jelek bagi masyarakat. Selain sinetron bergaya hidup mewah dan penuh ajaran pergaulan bebas, iklan-iklannya juga sama jeleknya.

Iklan-iklan hanya mengajarkan hidup boros, seolah tak bisa hidup tanpa makanan A, obat B, kosmetik C, dan membuat banyak gadis putus asa karena penampilan fisiknya tak sesuai iklan yang dia lihat, serta orang tua dilanda nestapa karena dituntut anaknya untuk beli barang dan kendaraan yang tak mampu dia beli.

Akhirnya, banyak gadis yang tak peduli ajaran agama yang penting tampil cantik, banyak orang mencuri atau merampok demi memenuhi kebutuhan hidup, banyak pejabat melakukan korupsi agar rumah dan kekayaannya terus bertambah. Tak peduli lagi halal ataukah haram. Mengerikan. Inikah hari-hari menjelang kiamat? Benarlah perkataanmu, ya Rasulullah.

Akan datang suatu zaman, di mana seseorang tak lagi peduli dengan apa yang dia ambil apakah dari yang halal atau haram” (HR. Bukhari)

Maka, benar memang, susah jadi orang baik. Tapi, “susah jadi orang baik” bukanlah alasan untuk menjadi orang buruk. Nasib orang baik memang mungkin susah, tapi hati mereka jauh lebih bahagia daripada orang-orang berbuat buruk yang tampak cantik, sukses, dan kaya itu. Patokan kita adalah pada kebahagiaan hati, bukan pada kekayaan harta, atau kecantikan rupa.

Bukan berarti kaya atau cantik menjadi salah, tapi jelas, kaya dan cantik bukanlah yang utama di dunia ini.

Agama bukan cuma untuk menyuruh orang “beribadah” kepada Tuhannya. Agama Islam diturunkan dengan tuntunan berperilaku sehari-hari. Memperlakukan tetangga, menghadiri undangan, bahkan merawat binatang peliharaan, Islam memiliki aturannya.

Sholat, zakat, haji, puasa, semua pahala ibadah tadi menjadi tak berarti jika akhlaq ahli ibadah ternyata tak menyenangkan sesama makhluk ciptaan Tuhannya. Lagipula, sholat dan ibadah-ibadah tersebut jika dilakukan dengan niat dan cara yang benar, insya Allah menyebabkan kebaikan akhlaq pelakunya.

Kata seorang penulis buku bernama Luqman Hakim, “Alasan kita belajar agama adalah untuk dipraktikkan.” Artinya, agama itu bukan cuma hapalan tentang doa, surat, dan ibadah, tapi juga pengamalan nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam ibadah tersebut.

Sholat mencegah perbuatan keji dan munkar, puasa dan zakat mendidik sifat kepedulian sosial, haji menanamkan nilai kesetaraan seluruh manusia di hadapan Allah swt. Jadi, klop, kan, dengan tujuan Allah swt yang mengutus Nabi Muhammad untuk menjadi penyempurna Akhlaq.

Sesungguhnya aku dibangkitkan untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia“. (HR. Bukhari dan Ahmad)

Betapa pun susah menjadi orang baik, tapi Rasulullah menegaskan dirinya memang hanya diutus untuk mengubah manusia di seluruh dunia menjadi manusia yang baik, yang beradab, yang punya etika, bisa membedakan dan memilih mana yang baik dan yang buruk di dunia ini.

Rahasia Orang Baik

Walau menjadi orang yang penting itu memang baik, tapi intinya, mari kita sepakat, bahwa menjadi orang yang baik itu jauh lebih penting. Lebih menentramkan hati, lebih membahagiakan, dan lebih menyenangkan bagi orang lain. Batu yang keras bisa luluh karena tetesan air yang lembut, seolah dengannya Allah ingin menyadarkan kita, sifat-sifat kelembutan dan kebaikan akan bisa menghilangkan kekerasan dan kejelekan. Asalkan kita bisa istiqomah, dan menetapi kebaikan itu.

Banyak orang kaya, atau punya wajah enak dipandang, tetapi akhlaqnya buruk, tak pantas ditiru. Banyak artis kaya, cantik, tapi perilaku tak pantas ditiru.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat wajah dan hartamu, tapi Dia melihat hati dan perbuatan-perbuatanmu.” (HR. Muslim)

Hati urusan Allah, pertanggungjawabannya mungkin tidak bisa kita ketahui kecuali setelah Allah menampakkannya di Hari Kiamat. Sedangkan perbuatan, maka sejak di dunia, kita harus bertanggung jawab. Berapa orang yang sudah kita sakiti lahir dan batinnya? Kalau kita tidak segera meminta maaf, maka tuntutan di Akhirat akan jauh lebih berat.

Tak perlu menghancurkan orang lain, memfitnah orang lain, mencuri (korupsi), hanya demi uang, hanya demi jabatan. Karena Allah tidak akan menanyakan kita akan memiliki seberapa banyak harta atau berada pada posisi apa kita di tengah masyarakat. Allah hanya menginginkan kita berbuat sebaik mungkin, di mana pun dan bagaimana pun kita ditempatkan dalam kehidupan ini. Miskin, tetap Islam. Kaya, tetap Islam. Jadi gubernur, tetap Islam. Jadi rakyat biasa, tetap Islam. Beramal sebaik mungkin, bergaul dengan orang sebaik mungkin.

(Dialah) yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kalian siapa di antara kalian yang paling baik perbuatannya” (QS Al Mulk: 2)

Kalau sudah begini, menjadi orang baik adalah keharusan dan prinsip. Biarlah orang berkata dan berbuat apa saja di sekitar kita, di televisi, di koran-koran, tapi prinsip baik harus selalu kita pegang teguh. Biarlah kata orang, susah menjadi orang baik, dan tak akan kebagian lezatnya dunia kalau tidak ikut-ikutan gila. Karena, itulah ujian bagi orang-orang yang meyakini Hari Perhitungan dan Pembalasan Amal.

Neraka itu dikelilingi hal-hal yang menyenangkan, dan surga diliputi hal-hal yang tak disukai.” (HR. Bukhari & Muslim)

4 responses to “Susahnya Jadi Orang Baik

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s