Say No to Valentine’s Day


Valentine’s Day adalah kebiasaan dari luar negeri, dari negara Barat. Selama ini kita kenal sebagai perayaan hari kasih sayang setiap tanggal 14 Februari. Kedengarannya indah. Hari Kasih Sayang. Memang indah, kan?

Di balik gegap gempita dan indahnya perayaannya, ada berbagai macam versi sejarah mengapa ada hari Valentine. Simpang siur. Gajebo, ga jelas, boo…!! Tapi, itu nggak penting. Meski banyak remaja muslim yang sudah tahu, toh, tetap saja merayakannya. Maklum, sudah kadung terbius dengan kata-kata hari Kasih Sayang.

Begitu juga semua hal dan pernak-perniknya yang khas Valentine’s Day seperti coklat dan segala sesuatu serba pink dan bentuk hati. Panggung musik di mana-mana untuk menghibur pasangan yang merayakan. Film dan acara bertema Valentine’s Day pun ramai bertebaran.

Tapi, Islam melarangnya. Islam melarang umatnya merayakan Hari Valentine bukan karena ingin tampil beda, tapi karena alasan prinsip. Prinsip yang mana? Islam melarang Hari Kasih Sayang? Bukan. Bukan Kasih Sayangnya yang dilarang, karena Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Islam melarang umatnya merayakan Hari Valentine karena beberapa alasan.

Beda Prinsip

Alasan pertama adalah alasan aqidah sejarahnya. Apapun namanya hari ini, Valentine’s Day mengawali lembaran sejarah dari aqidah Nasrani, dan itu sebenarnya sudah cukup untuk melarang perayaan Valentine’s Day bagi orang beragama Islam. Valentine’s Day adalah kebiasaan agama Nasrani yang berhasil dipaksakan menjadi kebiasaan seluruh dunia tanpa pandang agama yang merayakannya.

Sungguh, deh, yang namanya orang Barat (baca: Yahudi dan Kristiani) pintar mencari cara biar penduduk dunia mengikuti apa kata mereka. Tahun Baru, Valentine’s Day, adalah sebagian bukti betapa agama mereka berhasil disusupkan secara sempurna menjadi kebiasaan rutin yang diikuti setiap tahunnya oleh penduduk dunia, apapun latar belakang agamanya. Yang beragama Muslim mungkin tak sampai berganti agama, tapi dengan adanya kebiasaan mengikuti acara Tahun Baru dan Valentine’s Day, secara tidak langsung sebenarnya dia sudah menjauh dari lezatnya memeluk agama Islam.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti “millah” mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS Al Baqoroh: 120)

Millah itu bisa berarti agama, bisa juga berarti tradisi, atau cara hidup (bahasa kerennya lifestyle). Ah, kan cuma Tahun Baru dan Valentine’s Day. Apa ruginya, sih?

Mendekat dan Menjauh

Mas, mba, berpikirlah lebih jauh dan lebih dalam. Semakin kita sering mengikuti perayaan umat agama lain, semakin ringan hati kita terhadap perayaan tersebut. Sebaliknya, ini juga semakin membuat hati kita terasa berat untuk melaksanakan perintah maupun sunnah dalam agama Islam. Kita repot-repot membeli terompet Tahun Baru dan cokelat Valentine’s Day, meluangkan waktu pergi ke perayaan Tahun Baru sampai larut malam dan ke acara-acara Valentine’s Day, tapi sebaliknya juga menjadi berat untuk menuntut ilmu agama Islam, berat melangkah ke pengajian, dan enggan membaca buku agama dan Alquran.

Mendengar lantunan Alquran rasanya tidak betah. Sementara menyimak alunan musik dan lagu cinta berjam-jam di sebuah konser justru seakan tak kenal lelah. Membaca novel seperti tak ingin berhenti, sedangkan membaca Alquran baru sekejap malah ingin segera berhenti. Na’uudzubillaahi min dzaalik.

Valentine vs Kasih Sayang Allah

Alasan kedua Islam melarang umatnya merayakan Valentine’s Day adalah alasan moral dan sosialnya. Perayaan “kasih sayang” Valentine menyebabkan remaja Islam malah menjauh dari “Kasih Sayang” Allah. Perayaan kasih sayang Valentine menceburkan dan kemudian menghanyutkan remaja Islam dalam derasnya arus pergaulan bebas. Nah, lho! Sudah kecebur, hanyut pula! Basah, deh! Rasa cinta diumbar sebelum waktu terbaiknya, kata-kata sayang diobral saling berbalas padahal bukan suami ataupun istrinya.

Apa yang kita pikirkan kalau ada orang yang bilang kepada kita, “jangan dekati desa itu, karena ada wabah berbahaya dan menular di dalamnya.”? Maka, yang paling baik adalah segera menjauh dari batas desa. Boleh dikatakan, batas desa saja sudah tak boleh dipijak, apalagi masuk sampai ke dalam wilayah desa. Mendekati saja sudah dikatakan “jangan”, apalagi sampai masuk. Dan itu juga berarti ungkapan kepedulian orang tersebut terhadap keselamatan nyawa kita.

Orang yang masih berusaha mendekati desa itu bisa berarti dua hal: dia tidak tahu ada wabah berbahaya alias bodoh –  tak berilmu, atau dia tahu tapi sengaja ingin men-celakakan dan membunuh dirinya sendiri. Bahkan bisa jadi juga membahayakan orang lain jika dia mengajak orang masuk bersama, atau dia keluar dari desa dan menyebar-kannya ke luar.

Pacaran adalah salah satu jalan memasuki suatu “desa” bernama Zina. Bukan sembarang jalan, tetapi jalan yang menurun tajam dan licin penuh batu kecil dan kerikil, sehingga sulit sekali untuk tidak tergelincir masuk ke dalamnya. Allah sudah peringatkan kita, lho…

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al Israa’: 32)

Sungguh, Allah Maha Menyayangi kita dengan larangan-Nya, dan kerugian yang serugi-ruginya jika kita meremehkannya.

Say No to Valentine’s Day.

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s