Televisi di Bulan Ramadhan


Televisi di Bulan Ramadhan, secara konten memang berbeda. Tapi secara esensi, hakikat tujuannya tetap sama: mengejar keuntungan. Bukannya memberikan masyarakat apa yang dibutuhkan, yaitu semangat berlatih menahan diri dari hawa nafsu, tapi malah membungkus acara bermotif profit dengan suasana Islami. Musik, busana ke-arab-araban (tapi masih tidak menutup aurat), dan mendatangkan ustadz, tapi pada dasarnya, masih tidak mampu membawa masyarakat untuk fokus kepada ibadah.

Oke lah, tidak semua stasiun televisi. Tapi tentu masyarakat tak punya kecukupan “kekuatan” untuk memilih apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Tetap saja, mereka lebih memilih apa yang mereka “inginkan”. Alih-alih menyaksikan acara pengajian, pada jam yang bersamaan jauh lebih laku acara lawak, atau acara “membersamai ibadah buka dan sahur” tapi didominasi lawak. Ustadz hanya sedikit muncul di beberapa sesi, sebagai pemberi nilai religius. Tapi gagal. Yang lebih masuk di otak pemirsa tentu lawakannya, sedangkan materi ustadz memang didengar, tapi masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Belum lagi kalau siang menjelang, acaranya tetap saja sama, mengumbar aurat, berpakaian tapi menonjol, ketat, dan terbuka. Hampir tidak ada bedanya. Bedanya adalah MCnya sering menyebut-nyebut “bulan suci”, “bulan puasa”, “bulan Ramadhan”, dan kata lain yang berhubungan, demi mengait-kaitkan setiap sesi acara, lagu, pakaian, atau adegan yang mereka lakukan dengan bulan yang mulia ini. Saya prihatin. Seharusnya kita semua prihatin.

Remaja, anak-anak, terutama mereka yang muslim, tidak memiliki “teman berkembang” yang baik. Sia-sia saja bapak-ibu guru di sekolah, percuma ustadz-ustadz di TPA-TPA, karena sepulang mereka di rumah, orang tua tak mampu membendung acara televisi di rumah. Anak kita produk benda kotak ajaib, bukan orang tua. Sia-sia saja kultum disampaikan, karena remaja sudah kadung lebih mendengar apa kata televisi. Sia-sia saja para da’i kultum menyeru menutup aurat, memakai jilbab, mengendalikan rasa malu, karena artis-artis berbaju ketat, mengumbar betis dan rambut, dan bertutur kata lebih gaul dari para da’i itu jauh lebih dipatuhi oleh remaja kita.

Televisi di Bulan Ramadhan, hampir tak ada bedanya.

Kapankah….?

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s