Harus Percaya dengan Siapa?


Sadarkah kita, apa yang kita terima dari koran, dari televisi, dan dari media massa satu arah mana pun, bisa jadi tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya di lapangan? Begitu pula artikel, video, atau foto dari internet yang tidak memungkinkan kita untuk mengirimkan feedback (tanggapan balik), atau hanya berjalan satu arah saja, sungguh memungkinkan penuh dengan rekayasa. Film yang kita tonton, film kartun, film laga, film komedi, bisa jadi semua mengandung pesan, ide, pemikiran, yang secara halus masuk ke dalam otak kita, dan secara halus pula kita terima tanpa perlawanan.

Iya, memang, semua materi publik itu memiliki pesan di dalamnya. Tapi ya itu tadi, masalahnya adalah, seberapa baikkah ide yang ditanamkan di dalam film itu untuk para penontonnya? Atau, seberapa nyatakah sebuah berita yang disampaikan kepada para pemirsanya?

Satu contoh, film kartun tampaknya menampilkan karakter lucu, penuh warna, tapi siapa menyangka, adegan dewasa ada di situ? Film kartun macam The Legend of Aang, atau Batman and Robin, atau Popeye, begitu gamblangnya menampilkan adegan ciuman bibir dengan bibir. Atau film kartun Aladdin garapan Disney, tak beda juga mengandung adegan ciuman, juga pakaian minim Puteri Jasmin dan penari erotis yang ada di dalamnya tak luput dari mata anak-anak yang menontonnya. Belum lagi iklan di televisi, macam iklan salah satu minuman berenergi yang menampilkan wanita dewasa, berpakaian merah, mengenakan jeans pendek, yang lebih parah lagi, beradegan seolah menendang, membuka pahanya lebar-lebar. Dan itu ditayangkan di jam-jam yang tak jelas, apakah anak-anak menontonnya atau tidak. (Bahkan, sebenarnya bukan berarti tak ada anak-anak lalu iklan semacam itu boleh ditayangkan). Seolah-olah mengajarkan kepada anak-anak, dan siapa pun yang menonton, bahwa berbuat/berpakaian seperti di televisi itu wajar saja. Makin lama, makin terbiasa, sehingga tak heran, dan tak merasa bermasalah dengan adanya tingkah laku serupa di kehidupan nyata.

Tak kalah pentingnya, pembahasaan media dalam setiap pemberitaannya. Mengenakan predikat “pejuang” kepada seseorang atau suatu kelompok, akan memberikan kesan yang berbeda seandainya mereka dicap dengan predikat “pemberontak”. Mengundang hanya satu pihak “pengadil”, tanpa mengundang pihak “netral” dan yang “diadili” adalah ketidakadilan. Menyembunyikan fakta demi membuat suatu pihak terlihat yang paling bersalah juga bukan keadilan. Tapi sulit. Ketidakmampuan pemirsa untuk bersikap kritis dan cenderung menerima bulat-bulat setiap informasi yang masuk dari kotak ajaib di rumah mereka membuat hidup mereka sepenuhnya dikontrol oleh alat hipnosis massal itu: televisi.

9/11: Fitnah Membawa Berkah

Sewaktu kejadian 9 September 2001 dulu misalnya, betapa kita menelan bulat-bulat berita saat itu bahwa WTC ditabrak oleh pesawat yang dibajak oleh kawanan Al Qaeda. Selain itu, keliru. Padahal, orang Amerika sendiri – yang masih mau bersikap kritis – sudah menunjukkan banyak fakta lain, sehingga berkesimpulan bahwa betapa tragedi WTC itu tak lebih sandiwara pemerintah AS sendiri untuk membenarkan agenda perang mereka ke Afghanistan. Keganjilan peristiwa tabrakan pesawat-gedung, keruntuhan gedung yang aneh, dan sejarah/riwayat hubungan Usama bin Laden dengan AS sendiri jarang terungkap di media massa. Bukti bahwa media massa tak selalu mengungkapkan apa yang seharusnya diungkapkan.

Hikmahnya, sejak saat itu, makin banyak orang-orang barat yang penasaran dengan Islam dan sebagian dari mereka beralih menjadi pemeluk Islam disebabkan telah mendapatkan jawaban yang memuaskan, tidak hanya terhadap peristiwa 9/11, tapi juga terhadap pencarian makna kehidupan yang selama ini tak mereka temukan dalam pola hidup barat mereka.

Bukan berarti tak bisa menerima televisi. Tapi, hendaklah setiap informasi itu diolah dengan sempurna dan penuh kekritisan. Seandainya ada informasi yang kurang, tak lengkap, atau janggal, maka hak kita untuk bersikap kritis demi menerima kebenaran. Ketahuilah apa yang memang di situ ada hak kita untuk mengetahui. Tapi jangan menuntut selebihnya. Jangan memaksa orang membuka aib di dalam keluarganya, jangan pula memaksa masuk ke dalam kamar-kamar di rumah seseorang sehingga terlihat semua yang ada di dalamnya.

Ada kebenaran yang patut kita tahu karena berkenaan dengan kepentingan bersama, tapi kebenaran pribadi tak lantas dipaksakan menjadi kebenaran bersama.

Satu pertanyaan sederhana yang para wanita nakal itu, seharusnya, bisa menjawabnya:

Adakah aurat pribadi itu kebenaran pribadi yang hanya boleh dikonsumsi oleh sendiri dan pasangan (suami/istri), ataukah dia merupakan kebenaran bersama yang patut diumbar murah ke setiap orang (bahkan anak-anak)?

Biasakan yang benar, jangan benarkan yang biasa. Karena, yang biasa itu belum tentu benar.

2 responses to “Harus Percaya dengan Siapa?

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s