Siapa Saya?


Apakah Anda menyukai kesendirian? Seberapa lama kesendirian Anda butuhkan? Dalam kesendirian, apakah Anda menyadari bahwa sesungguhnya tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri?

Apabila ada di antara orang mengatakan,”Saya tidak membutuhkan siapa pun. Saya bisa melakukan semua hal dengan kekuatan dan uang saya sendiri”. Kata-kata seperti ini memang nampak gagah di luarnya. Tapi sesungguhnya kropos di dalamnya. Sebuah ungkapan ingin menunjukkan bahwa ia adalah orang hebat yang sia-sia. Orang hebat yang tidak butuh tangan-tangan orang lain untuk melakukan setiap hal dari ambisinya namun tak menunjukkan apapun selain kelemahannya sendiri.

Siapapun orang yang menjadi semakin “kuat”-dalam segala hal-semakin banyak ia bergantung pada orang lemah. Semakin menjadi “besar” orang itu, semakin banyak ia membutuhkan tangan-tangan kecil yang menopang kebesarannya. For example, sebelum si A menjadi pejabat, ia biasa melakukan hampir semua hal kecil dengan tangannya. Tetapi ketika jabatan dan kekayaan ada di genggamannya, ia banyak membutuhkan tangan jelata untuk sekedar mencuci kemeja, menyemir sepatu, menerima telpon, mengatur agenda, menjinjing tas, bahkan hanya untuk sekedar membuka pintu mobil dinasnya. Lalu apa yang ada di benaknya ketika dengan enteng dia menyatakan,”Saya tidak membutuhkan siapa pun. Saya bisa melakukan semua hal dengan kekuatan dan uang saya sendiri”?

Apa yang Anda katakan apabila Anda benar-benar bertemu dengan orang seperti ini dan mendengar ratapannya itu? Jangan lama-lama berpikir. Segera tinggalkan orang itu dan berucaplah terima kasih.

Jika Anda penasaran dan sakit hati, jangan tunjukkan. Sebab ia akan semakin menjadi-jadi. Tapi katakan padanya dengan lembut, ”Pak, Anda luar biasa. Hanya bapak satu-satunya di dunia ini orang yang dapat melakukan seperti apa yang bapak katakan. Saya menantikan keluarbiasaan bapak itu untuk yang kedua kali. Saat di mana bapak memandikan jenazah bapak sendiri, mengkafani jenazah bapak sendiri, menyalatkan jenazah bapak sendiri, mengusung keranda jenazah bapak sendiri dan menimbun jenazah bapak sendiri di pekuburan”.

Orang dengan ongkos hidup yang besar membutuhkan lebih banyak tangan-tangan kecil untuk memenuhi semua kebutuhannya.

Manusia tawadhu memahami hakikat ini sebagai kenyataan bahwa ia tidak bisa hidup sempurna tanpa orang lain. Bahwa ia lemah dan hanya menjadi kuat apabila bersanding harmonis dengan sesamanya. Bisa pasangan hidup, orang tua, anak-anak, teman, kolega, siswa, pelanggan, konsumen, pasien, atasan-bawahan dan semua komunitas dalam jaringan sosial di medan hidup.

Tipe No

”Pak, bisakah meminjamkan saya uang untuk sekedar ongkos pulang hari ini?” ”Aduh, tidak bisa. Ongkos saya pun hanya untuk tinggal hari ini dan besok”. ”Masih kosong ya. Bisa ikut sampe depan ngga?”

”Wah, saya buru-buru. Saya ambil jalan memutar. Lain kali saja”

”Bu, mo ke pasar kan. Saya nitip bumbu dapur ya?

“Gimana ya, saya dari pasar tidak langsung pulang. Ada keperluan dengan teman. Mungkin pulangnya sore”.

Orang dengan tipe ini selalu merespon permintaan orang lain dengan pesimistik. Serba tidak. Serba memberi jalan buntu. Dan serba mengkandaskan harapan. Seolah-olah hanya kegelapan yang berani diberikan oleh orang tipe ini. Satu-satunya sikap yang murah ia berikan pada orang lain hanya ”I don’t care”. Orang tipe ini lupa, bahwa ia tidak akan pernah memanen padi dengan hanya menanam rumput.

Orang tipe ini tidak merasa risih dengan segala keterbatasan orang lain. Ia adalah tipe orang yang ingin gembira sendiri saja. Kenyang sendiri saja. Nyenyak sendiri saja. Dan nyaman sendiri saja, kecuali hanya untuk orang-orang tertentu yang masuk pada ring komunitasnya.

Baginda Nabi pernah memberi ilustrasi yang cukup ”pahit” dalam konteks ini:,

”Tiada beriman kepadaku orang yang bermalam (tidur) dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal itu”. (HR. Al Bazzaar)

Tipe OK

”Pak, bisakah meminjamkan saya uang untuk sekedar ongkos pulang hari ini?”

”Ok.”

”Masih kosong ya. Bisa ikut sampe depan ngga?”

”Bisa.”

”Bu, mo ke pasar kan. Saya nitip bumbu dapur ya?

”Boleh.”

Pada dasarnya ini tipe orang baik. Tetapi kebaikannya bersipat menunggu. Meskipun ia tahu ada orang yang tengah membutuhkan sesuatu dan ia bisa memenuhinya, ia hanya akan tetap menunggu sampai orang itu meminta kesediaannya membantu. Kebaikan orang tipe ini bersifat ekstrinsik yang baru muncul ke permukaan apabila ada dorongan kuat dari luar dirinya. Orang tipe ini sangat teguh memegang prinsip ” I will do what you ask” Orang tipe ini tidak tahu, bahwa menanam padi banyak untungnya.

Ahaa … sebuah riwayat Imam Tirmidzi dari kanjeng Nabi mulia, Muhammad shallallaahu ’alaihi wa sallam terasa relavan untuk illustrasi manusia tipe ini. Kata baginda. : ”Janganlah kalian menjadi orang bodoh yang mengatakan: “Jika manusia berbuat baik padaku maka akupun berbuat baik padanya. Jika mereka berbuat zalim maka kamipun akan zalim kepada mereka. Akan tetapi pandaikanlah diri kalian, di mana jika manusia berbuat baik maka berbuat baiklah pada mereka dan jika mereka berbuat zalim maka janganlah kamu berbuat zalim kepada mereka”. (HR. Tirmidzi).

Tipe Please, OK dan Yes.

”Pak, jika hari dan tanggal segini tidak ada ongkos, bilang saja. Jangan sungkan. Cadangan dana saya lebih dari cukup sampai gajian bulan depan.”

”Hei, mau ke depan ya? Ayo naik. Masih cukup untuk empat orang.”

”Mba, aku mo ke pasar. Mo nitip sesuatu?”

Full inisiatif, peka dan selalu tergerak untuk memberikan kebahagiaan pada orang lain. Orang tipe ini mampu mengubah rasa putus asa orang lain menjadi harapan. Mengubah muram orang lain menjadi ceria. Mengubah kelemahan orang lain menjadi kekuatan. Bagi orang tipe ini, kebahagiaan bukanlah miliknya sendiri. Orang lain juga berhak merasakan kebahagiaan seperti kebahagiaan yang tengah ia rasakan.

Kebaikan orang tipe ini bersifat intrinsik yang tidak bergantung dengan sesuatu yang datang dari luar dirinya. Diminta atau tidak diminta, ia akan melakukan yang terbaik untuk orang lain. Dalam berbagai kesempatan ia tidak pernah lelah menyapa, “What can I do for you?” Orang tipe ini tahu persis bahwa dengan menanam padi, ia bukan hanya akan memanen gabah. Tapi ia juga akan memanen rumput yang tumbuh sendiri di sela-sela rimbun padinya.

Orang tipe ini sadar betul, bahwa apapun yang dilakukannya semua akan kembali padanya,:

“Barang siapa yang mengerjakan amal yang shaleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” (terjemah QS. Al-Jatsiyah [45]:15). Bagi orang tipe ini, tak akan ada ruginya memulai lebih dulu berbuat baik. Luar biasa.Tak ada ruginya pula mencoba mendisain kita menjadi orang tipe please, yes dan OK. Semoga kita bisa!

Ciputat, Juli 2010.

abdul_mutaqin@yahoo.com

http://www.eramuslim.com/oase-iman/abdul-mutaqin-siapa-saya.htm

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s