Kaidah Ringkas Berpakaian Muslimah


Setiap makhluk diciptakan berpasang-pasangan, ada unsur jantan dan unsur betina. Bahkan, walaupun suatu spesies merupakan makhluk aphrodite, bukankah terdiri dari dua unsur ini juga?

Hanya saja, Allah menciptakan daya tarik untuk salah satu unsur. Misalnya, burung merak jantan diciptakan punya pesona bulu indahnya dibandingkan burung betina yang sederhana. Begitu juga ayam jantan yang memiliki lebih banyak aksesoris hiasan pada tubuhnya. Sedangkan untuk manusia, Allah takdirkan wanita memiliki daya tarik yang lebih besar dibandingkan pria. Boleh dikata, seluruh tubuh wanita adalah hiasan.

Namun, pria dan wanita bukanlah hewan. Mereka tidak dirancang untuk memamerkan diri dengan bebas (sebagaimana ajaran budaya bebas ala Barat), berdandan sedemikian rupa, ingin berbusana gaya apapun terserah, bahkan tak berbusana pun, boleh (na’udzubillah). Lalu dipersilakan menjalin hubungan seenaknya, putus-sambung-putus-sambung, tanpa ada tanggung jawab. Beberapa negara Eropa dan Asia mengalami masalah kekurangan SDM karena pola hidup tak bertanggung jawab seperti ini.

Manusia berbeda dengan hewan. Hewan diciptakan tak memiliki adab, etika, atau rasa malu. Sedangkan manusia diciptakan dengan hati, akal, dan terutama, rasa malu. Itulah fitrah manusia yang asli.

Tapi sebagian manusia merasa terkekang. Mereka merasa lebih nyaman ketika melepaskan ikatan hawa nafsunya, sehingga rasa malu pun perlahan berkurang, bahkan hilang sama sekali. Dan, ketika manusia mulai mempromosikan kebebasan hawa nafsu ini, yang menjadi korban, sebenarnya adalah wanita. Berbagai promosi produk, film, iklan, lagu, semua memposisikan wanita sebagai “ujung tombak”. Mereka diarahkan untuk memakai busana ini dan itu, berdandan demikian cantiknya, demi memikat konsumen. Mereka memanfaatkan keindahan tubuh wanita untuk dijajakan. Dan, parahnya, para wanita pun sukarela saja, senang-senang saja memamerkan tubuhnya, tak merasa malu, sungkan, atau merasa dimanfaatkan.

Islam yang selama ini dianggap memojokkan wanita, padahal telah memuliakan wanita. Islam melindungi fitrah kemanusiaan wanita: rasa malu. Maka, ketika budaya Barat mencoba mengikis rasa malu, mereka sebenarnya telah men-dehumanisasi-kan wanita, menghapus status manusia dari diri wanita, sehingga seolah mereka seperti hewan yang tak memiliki malu, atau barang yang dijajakan dengan bebas.

Islam memandang seluruh tubuh wanita sebagai hiasan yang harus dijaga dengan hati-hati. Jika dibuka di sembarang tempat, dia tak lagi terasa indah, tapi malah membinasakan dan menjatuhkan harga diri mereka sendiri. Secara umum, berikut ini aturan yang insya Allah akan menyelamatkan wanita dari imajinasi para lelaki.

  1. Menutup seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan. Menutup di sini adalah dalam berbagai kondisi, tidak hanya ketika berdiri. Jadi kalau seorang wanita duduk, dan membuat anggota tubuh selain muka dan telapak tangan terlihat (seperti misalnya betis), dia seharusnya berusaha bagaimana caranya agar betis itu tertutup ketika dia duduk, mungkin bisa dengan menggunakan celana panjang. Terutama juga mereka yang terbiasa memakai “baju adik”, sehingga ketika duduk, bagian punggung bawah terlihat jelas, seharusnya memperhatikan baik-baik apa yang mereka contohkan kepada adik-adik wanita yang masih kecil. Demikian juga berusaha agar bagian leher tetap terlindungi walaupun menengok ke sana kemari. Karena itu, kerudung/jilbab diusahakan menutupi leher hingga ke bawah dada.
  2. Tebal, tidak transparan. Kerudung juga diusahakan tebal, sehingga warna hitam rambut tertutup sempurna.
  3. Longgar, tidak ketat. Jangan biarkan bagian pinggang terlihat bentuk “gitar”nya. Untuk pakaian bawah, lebih aman memakai rok yang longgar, dengan celana panjang di bagian dalamnya. Kalau memakai celana, hindarilah jeans..
  4. Tidak mengundang fitnah atau menjadi perhiasan bagi dirinya. Jangan memaksudkan busana untuk menarik perhatian, karena kita tidak ingin wanita lain merasa iri dengan kita, kan? Dengan berbusana mencolok, membuka kesempatan bagi wanita lain untuk mengghibah hal yang buruk tentang kita. Berpakaianlah secara proporsional dan sederhana, yang penting sesuai dengan suasana acara.
  5. Tidak menyerupai kaum laki-laki. Karena wanita memang berbeda dengan pria, itu saja.
  6. Tidak berbusana seperti wanita non-muslim. Setidaknya, jangan pernah mau menjadi budak mode non muslim. Karena Islam punya mode sendiri, yang lebih menyelamatkan harga diri!
  7. Tidak mencolok. Jangan menggunakan jilbab yang mencolok warnanya, atau memiliki kilau/motif yang berlebihan. Hampir sama dengan nomor 4. Jangan sampai para wanita berlomba dalam urusan dunia karena contoh yang tak baik dari diri kita. Kalau kita merasa bangga dan sombong ketika memakai sebuah busana (walaupun busana itu bagus atau bahkan jelek), berarti ada yang salah dengan diri kita, atau busana itu yang harus diganti.
  8. Tambahan, berbusana seperti ini dilakukan di hadapan bukan mahram. Jadi, walaupun di dalam rumah sendiri, ketika berada di luar kamar pribadi, tetaplah berbusana demikian, karena tentu selalu menerima tamu-tamu bukan mahram. Ini yang harus diperhatikan karena masih banyak wanita muslimah yang keliru memahami. Kebanyakan, di sekolah, kantor, pengajian berjilbab rapi, tapi di rumah dan lingkungan kampung kembali dilepas. Padahal, bukan patokan “tempat” di mana kita harus berpakaian, tetapi “di hadapan siapa” kita berpakaian. (Al Quran Surat 33: ayat 55)

Banyaklah lagi bertanya, banyak membaca, sehingga kita tahu, apa konsekuensi yang sebenarnya akan diterima jika tetap berbusana tak sesuai fitrah rasa malu kita. Sehingga, kita tahu, betapa Allah Menyayangi kita dengan aturan yang penuh perhitungan ini.

Akhirnya, kebenaran itu tidak selalu apa yang diyakini dan dilakukan oleh banyak orang. Justru seringkali, kebenaran itu asing, sedikit yang tahu, dan terlihat “aneh” di tengah banyak orang.

Jangan benarkan yang biasa. Tapi biasakan yang benar. Karena, yang biasa belum tentu benar.

Kalau ada yang salah, atau kurang, mohon masukannya… Wallahu a’lam..

-fadhlijauhari 9 juli 2010- dari berbagai sumber

sumber lain yang patut dibaca:

http://jamalsaimah.hadithuna.com/2010/01/01/pakaian-muslimah-mengikut-syariat/

http://jilbabmayra.wordpress.com/2008/09/09/berjilbab-menurut-syariah/

6 responses to “Kaidah Ringkas Berpakaian Muslimah

  1. Apakah wanita muslimah boleh memakai lotion ( smcm cairan utk menghaluskan kulit tubuh ) ? Kalo boleh yg macam apa ?

  2. boleh.. apa aja, yang penting bahan baku pembuatannya halal.. kalau rokok bahan bakunya sudah jelas dan diketahui semua orang (termasuk si perokok sendiri) bahayanya, tetapi kosmetik sering luput dari perhatian orang.. ada bahan/senyawa dalam kosmetik yang ternyata bahan dasarnya diambil dari suatu zat yang haram, seperti plasenta manusia, kulit babi, dsb.
    amannya, carilah info kosmetik yang bahannya jelas kehalalannya.. yang merk islami pun insya Allah sudah banyak, hanya saja memang promosi dan pemasarannya tak segencar produk serupa dari produsen non Islam..
    wallahu a’lam

  3. assalamua’alaikum…maf sya mau tanya,aku hruz bgaimana sudah lama aku ingin memakai jilbab panjang tetapi bnyk sekali halanganya….apa yang harus saya lakukan?

    • wa’alaikumussalam wr wb

      setiap usaha dipengaruhi oleh dua faktor; yaitu dari dalam, dan dari luar.. praktisnya: 1. dari dalam, kita yakinkan diri kita sendiri, bahwa berjilbab ini adalah suatu kebaikan, dan kebaikan itu akan bermanfaat bagi diri kita.. lalu tak lupa memohon pada Allah supaya dikuatkan.. banyak berdoa..

      2. dari luar, bergaullah dengan org yg kepribadiannya baik, sering baca buku, bertanyalah pada para ahli, atau bertemanlah dengan wanita2 berjilbab yang baik kepribadiannya, karena mereka telah sukses berjilbab “luar dan dalam”.. cobalah sabar utk tetap dekat dengan mereka, insya Allah kebaikan mereka akan tertular pada kita.. semoga berhasil..

      wassalamu’alaikum wr wb

      Allah tidak membutuhkan kita… Kitalah yang membutuhkan Allah…

      ________________________________

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s