Judi Kecil-Kecilan, siapa yang menang?


“Kalau nanti tim A yang menang, aku traktir kamu bakso, deh. Tapi kalau tim A kalah, kamu yang traktir, ya..!”

Awalnya memang cuma sebatas mentraktir, tapi lama kelamaan, berubah menjadi “mentahan” alias tunai, karena dirasa lebih “berguna” jangka panjang, daripada semangkuk bakso yang dalam jangka waktu beberapa jam sudah dilumat enzim di dalam lambung, dan sekitar sehari sudah keluar berubah warna jadi kuning.

Awalnya kecil, seribu, lima ribu, sepuluh ribu, sampai akhirnya ratusan ribu dan jutaan, karena merasa yakin dan paling paham dengan tim A atau tim B, seolah tahu persis bagaimana berjalannya pertandingan selama 90 menit.

Begitulah yang terjadi selama ini. Apalagi ramai Piala Dunia. Perjudian menjadi hal yang biasa. Tapi entahlah, mereka tetap tak mau menyebutnya berjudi. Kelihatannya memang berbeda, dan “tak terlalu” merugikan, apalagi cuma beberapa ribu perak saja.

Maka, di sinilah perangkap syetan bekerja. Mereka terus hembuskan kata-kata “cuma”, “kecil-kecilan”, “tak ada yang rugi besar”, dll., sehingga makin penasaran tiap kali tim jagoannya kalah, merasa sudah paham luar dalam kedua tim yang akan bertanding malam itu.

Padahal, tentu saja bukan masalah kecilnya atau “cuma”nya.

Allah hendak melindungi kita dari bahaya efek bola salju. Kebiasaan berjudi kecil-kecilan, apalagi di usia muda, akan membawa efek ketagihan sehingga tak mau berhenti, bahkan meskipun sudah berusia dewasa. Sehingga, jumlah taruhan yang dulunya di awal kecil-kecilan, lama kelamaan akan terus membesar, yang tentu saja akan sangat berpengaruh terhadap cara pandang kita tentang uang. Kita akan makin tergila-gila dengan “judi”, cara cepat untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar (atau sebaliknya juga, cara instan menghilangkan uang dalam jumlah besar).

Kalau sesuatu sudah jadi kebiasaan, maka akan sulit dihilangkan, seolah ada yang kurang kalau tak dilakukan.

Awalnya pikiran: ah, kecil-kecilan, kok.. sepertinya ga rugi banget

Lalu timbul tindakan: mencari lawan taruhan, lalu bertaruh..

Ketagihan dan penasaran, sehingga kebiasaan: kalau menang, ingin dapat lagi.. kalau kalah, “Kok bisa, ya?”

Akhirnya, nasib: jadi orang kaya, lalu punya usaha, tapi modalnya dari uang haram, lalu dari mana usahanya berpahala? atau jadi orang miskin, dikejar-kejar hutang, diburu orang, hidup pun tak tenang…

Tidaklah seseorang melakukan dosa besar melainkan karena dia meremehkan bertumpuknya dosa-dosa kecil. Siapa yang menang? Syetan…!!

Al Ma’idah: 90-92

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

-fadhli jauhari 3 juli 2010-

Iklan

4 responses to “Judi Kecil-Kecilan, siapa yang menang?

    • ngomong opo tho iki… jodoh itu tergantung kepribadian dan perbuatan kita.. pada saatnya tiba, jodoh yg dikirim adalah sesuai dengan kualitas diri kita.. jadi, sampai saat itu tiba, mendingan perbaiki diri..

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s