Belajar Mengisi Kultum


Prolog

Kultum umumnya identik dengan sebuah ceramah yang ditujukan bagi berbagai kalangan (atau pada tempat tertentu bisa jadi mayoritas dapat mewakili komunitas tertentu, misalnya mahasiswa atau pegawai), dengan jumlah banyak, dimana hal ini biasanya dilakukan di masjid – masjid yang dilakukan pada saat bulan Ramadhan. Lebih luasnya terkadang juga dilakukan tidak pada saat Bulan Ramadhan saja, tetapi pada bulan lainnya dan dapat juga dilakukan di luar masjid. Ceramah sendiri merupakan salah satu bentuk komunikasi dengan berbicara dalam rangka mempengaruhi manusia untuk diarahkan pada keinginan kita, tentunya dalam hal ini kepada petunjuk Islam. Kultum juga sampai saat ini masih identik dengan pembatasan waktu berkisar antara 10 sampai 15 menit (walaupun kultum sendiri singkatan dari kuliah tujuh menit, tetapi pada beberapa tempat bergeser menjadi kuliah terserah antum) dan biasanya dilakukan searah (bukan dialog). Kita sebagai seorang muslim seharusnya bersemangat dan berusaha terlibat dalam kegiatan ceramah seperti ini, karena ini merupakan sarana efektif dalam rangka mengingatkan umat dari kelalaian dan menyeru mereka pada kebaikan. Hal ini merupakan ciri – ciri yang seharusnya ada pada masyarakat Islam yang merupakan umat yang terbaik, sebagaimana Allah telah berfirman :

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang baik dan mencegah kepada yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (ali Imran : 110)

Para pendahulu kita dari kalangan orang – orang shalih telah mewariskan sejarah yang cukup mencengangkan setiap kita yang mencoba menyusuri jejaknya, sehingga karena pengaruh mereka yang cukup kuat dalam beramar ma’ruf nahyu munkar inilah mereka berhasil menguasai 2/3 dari bagian bumi ini. Namun.., ketika mereka kaum muslimin dan ulamanya mencoba meninggalkan kewajiban ini maka telah dapat kita saksikan satu persatu kekuasaan Islam jatuh ke tangan – tangan musuh Islam, sebagaimana dapat kita saksikan waktu kejatuhannya negeri Andalusia (lihat sejarah Ibnu Hazm al andalusi) Syaikh Ibnu baz rahimahullah pernah memfatwakan bahwanya hukum berdakwah (diantaranya dengan berceramah –peny) adalah fardlu ‘ain, karena saat ini sangat sedikit sekali orang – orang yang mau memberikan ceramah dan berdakwah (Wujubud Da’wah ilallah).

Syaikh Utsaimin pernah menjelaskan bahwasanya cara berdakwah dengan menggunakan lisan merupakan cara yang paling efektif dalam berdakwah, karena dengannya kita dapat mengetahui secara langsung respon daripada objek dakwah kita (lihat Fatwa – Fatwa Syaikh Utsaimin, alQowam). Jauh sebelum para ulama berceramah dengan tulisan biasanya mereka memperbanyak ceramah dengan lisan. Sebagaimana al – Qur’an juga diturunkan dengan media suara sebelum dibukukan atau juga hadist – hadist dan atsar para shahabat. Dalam haditsnya Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam kembali mengingatkan kita akan pentingnya berdakwah dengan lisan, artinya :

“Barangsiapa melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan, jika tidak mungkin dengan lisan, jika tidak mungkin dengan hati, dan itulah selemah – lemah iman.” (HR. Muslim)

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam menempatkan berdakwah dengan lisan setelah berdakwah dengan tangan dan termasuk ke dalam keutamaan iman kaum muslimin. Kaidah Umum memberi Nasihat Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi para penyeru kebaikan, diantaranya :

  • Perintah dan larangannya diberikan secara halus dan lemah lembut sehingga diterima jiwa
  • Pemberi nasihat mengetahui yang halal dan haram, sehingga seruannya bermanfaat dan tidak memberi dampak negatif karena kekurang tahuannya.
  • Penyeru kebaikan wajib melaksanakan apa yang diperintahkannya dan menjauhi apa yang dilarangnya, agar faidahnya dapat bernmanfaat sempurna.
  • Setiap pemberi nasihat hendaknya berani, tidak takut pada celaan dan hinaan orang, tapi hendaknya takut pada Allah subhanahu wata’ala semata serta sabar menhadapi cobaan yang menimpanya.

Tahapan dan Kunci Sukses

Kultum sebagai sarana komunikasi memiliki tiga unsur penting, yaitu: Pengirim (penceramah), Penerima (objek da’wah), Pesan (nasihat). Tahapan yang akan dilalui hendaknya mengingat 3 (tiga) unsur tersebut, diantaranya: Motivasi dari penceramah hendaknya mempunyai tujuan yang jelas disertai keyakinan kuat bahwa tujuan tersebut sangat penting. Kemudian hati penceramah mengungkapkannya sebelum lidah dan seluruh potensi dirinya mengutarakannya. Menentukan bentuk pesan (tema dan bentuk penyampaian).

Tema pesan disamping harus memperhatikan prioritas dalam agama, menggunakan dalil yang shohih juga diharapkan up to date. Tema yang up to date menuntut pengetahuan pembicara dalam dunia kontemporer atau minimal mengetahui kondisi realita umat, misalnya : Tema kesabaran menghadapi musibah banjir ketika banyak daerah kebanjiran, tetapi hal ini dapat dikaitkan dengan tauhid ketika umat justeru banyak meminta pertolongan pada sesembahan selain Allah Ta’ala (hal ini perlu untuk mengejar prioritas dalam berda’wah). Tema lain misalnya tentang pornografi yang saat ini sedang aktif dilawan pemerintah, tetapi dikaitkan dengan aqidah ahlussunnah waljama’ah, dimana salah satu bentuk ketaatan ahlussunnah waljama’ah adalah menta’ati pemerintah.

Bentuk penyampaian akan berbeda – beda sesuai dengan penerima dan lingkungan dihadapan kita. Apabila objek kita kalangan pemuda, tentu akan berbeda penyampaian dengan objek kalangan orang tua. Menghadapi para wanita akan berbeda dengan jama’ah laki – laki atau jama’ah yang majemuk. Berbeda pula antara kalangan mahasiswa dan kaum awam di perkampungan. Hal ini kadang menuntut keterampilan penceramah mempunyai wawasan dalam bidang yang sesuai dengan kondisi mad’u. Misalnya seorang penceramah terlebih dulu membaca sekilas (tidak perlu mendalam) tentang materi tentang dunia IT apabila mad’u (objek dakwah) yang dihadapi adalah kalangan insinyur. Merealisir bentuk pesan ke dalam praktek.

Praktek pertama adalah membuat kata pembuka yang menarik, maksudnya menarik perhatian dari jama’ah atau memberikan rangsangan dengan gerakan, atau kalimat lembut, atau kata atau teriakan / panggilan ataupun tujuan yang memang disukai oleh jama’ah. Kata pembuka disini maksudnya dilakukan setelah penceramah memberikan sambutan dengan dengan salam, pujian dan sholawat serta salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam (hal ini semua jarang sekali ditinggalakan para ulama ketika mereka memberikan ceramah/nasihat, kecuali pada kondisi yang memang tidak memungkinkan. Misalnya nasihat – nasihat pendek). Beberapa contoh kata pembuka: Ya ayyuhannas, wahai pemuda, jama’ah sekalian yang kami hormati / cintai, dst.

Praktek kedua kemudian menyambung kata pembuka dengan pesan – pesan yang menarik bagi jama’ah. Hal ini menuntut latihan secara terus – menerus, baik sendiri ataupun secara kelompok. Ada banyak teori praktek tentang hal ini, namun perlu diingat bahwa tujuan daripada penyampaian pesan ini adalah agar pesan kita dapat diterima dan dipahami oleh objek da’wah, sehingga sebaik – baik teori praktek adalah dengan praktek itu sendiri. Learning by doing! Kesuksesan besar dalam menyampaikan pesan secara umum atau mengisi kultum secara khusus adalah tidak lebih akan menggunakan sarana – sarana berikut ini: bahasa, Intonasi suara, rona wajah, gerakan tubuh, kemudian sarana – sarana eksternal.

Ada yang perlu diulang disini sebelum melangkah kepada sarana – sarana diatas, yaitu sebuah bab dalam shahih bukhari tentang bab al – ‘Ilmu Qobla Qoul wal ‘amal (Bab berilmu sebelum berkata dan beramal). Hal ini berarti berkata dan berbuat dalam Islam adalah setelah kita belajar, namun kalau kita balik maka faktor kesuksesan setelah belajar adalah berkata dan berbuat. Bukan begitu?.

Sarana Pertama Bahasa. Dilakukan dengan memilih kata – kata yang fasih dan melakukan pembicaraan yang jelas, sebagaimana al – Qur’an telah menyihir hati orang – orang Arab. Nabi shallallaahu’alaihi wasallam berkata artinya:

“sesungguhnya diantara penjelasan itu ada yang menyihir.” (inna minal bayani lasihran).

Setiap kita sudah seharusnya banyak menghafal al – Qur’an dan hadits Nabi shallaahu ‘alaihi wasalam untuk mendapatkan kefasihan dalam berceramah. Ada mungkin juga kita temui dalam keseharian beberapa ungkapan bagus yang perlu kita hafal, sehingga akan menambah perbendaharaan kalimat kita. Kita akan lebih sempurna apabila juga mengetahui beberapa terminologi – terminologi topik yang sedang dibicarakan dari para ahlinya (spesialis), sehingga orang akan percaya dan mudah menerima ceramah anda. Hal yang tidak kalah penting adalah memilih format bahasa yang sesuai dengan waktu yang diberikan. Tidak boleh terlalu singkat dan tidak lengkap, tetapi tidak terlalu panjang yang membosankan. Ketika kita berada pada tempat komunitas tertentu, hendaknya juga banyak mengutip dari tokoh – tokoh yang bisa diterima oleh komunitas tersebut. Ketahuilah setiap tempat mempunyai pembicaraan sendiri dan setiap kondisi mempunyai sarana yang berbeda dengan sarana untuk kondisi yang lain.

Sarana Kedua Intonasi Suara dan Bahasa Tubuh. Sarana ini merupakan sarana terpenting dalam penyampaian ceramah. Sejumlah penelitian di Inggris pada tahun 1970 M mengungkapkan bahwa pengaruh pembicaraan bagi orang lain dipengaruhi oleh kalimat sebesar 7 %, intonasi suara mempunyai pengaruh sebesar 38 %, dan bahasa tubuh lainnya (mata, wajah, tangan dan tubuh), mempunyai pengaruh sebesar 55 %. Ada beberapa catatan yang harus kita hindari tentang bahasa tubuh ketika kita menjadi penceramah, yang umumnya dilakukan tanpa sadar, misalnya: menggaruk – garuk kepala, memainkan benda – benda terdekat, menggoyang – goyang kaki, mata jelalatan dan sebagainya. Umumnya penceramah sukses mengarahkan pandangan mereka ke jama’ah, bersikap tenang dan tidak grogi, menggerakkan tangan mereka sesuai tema yang sedang dibahas, membuat mimik wajah yang semuanya mengarah pada upaya mengarahkan jama’ah pada upaya mempengaruhi mereka agar sesuai dengan tujuan materi.

Langkah Awal Pengembangan diri!

  • Mendengar dan memperhatikan ceramah orang – orang terkenal, kemudian menirunya dan selanjutnya mencari cara khusus bagi kita setelah itu
  • Meminta salah seorang disekitar kita untuk merekam kultum kita tanpa sepengetahuan kita, kemudian dengarkan kultum tersebut dan kritiklah gaya bicara kita serta meinta orang lain meluruskannya
  • Setelah kita beberapa kali naik mimbar, tulislah catatan – catatan tentang pembicaraan tersebut dan tinggalkan catatan tersebut di ceramah kita di masa yang akan datang.

Disarikan dari: Barometer Muslim Manajemen Hidup Sukses, Daru Falah Agar Nasihat dapat diterima, Pustaka Ibnu Katsir Dan beberapa buku lainnya. (asw)

http://belajarislam.com/materi-belajar/panduan-ilmu/189-belajar-mengisi-kultum

6 gagasan untuk “Belajar Mengisi Kultum

    • yap.. fiqih kontemporer.. fiqih realitas.. tapi klo ga tau, bisa “ditolak” dengan sopan.. “Oh, insya Allah akan saya tanyakan kepada ustadz yang lebih tinggi dari saya.. ini akan jadi PR saya..” karena, perlu landasan di tiap jawaban kita.. “tidak tahu” adalah juga setengah pengetahuan, kata Imam Syafi’i..

    • itu hubungannya dengan kebiasaan.. jadi, yaa nikmati aja malu dan grogi di awal-awal kita merintis kegiatan ceramah kultum.. untuk meminimalisir rasa gugup, kuasai dengan baik materi yang akan disampaikan, banyak membaca, lalu jangan terburu-buru ketika berbicara, pandang semua arah dengan santai dan seksama, insya Allah rasa grogi jadi berkurang… semoga sukses..!

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s