Mengurus Negara Ala Pesantren (kontribusi islam dalam pembangunan nusantara)


Sejarah emas Indonesia banyak didominasi oleh umat Islam. Bukan  bermaksud menafikan kiprah umat lainnya, tetapi demikianlah realitanya. Lebih spesifik lagi, sejarah umat Islam Indonesia lebih diperankan oleh perjuangan pesantren dengan para kyai dan kaum santri sebagai aktor utama di dalamnya.

Mengingat kontribusi pesantren yang amat besar, lewat tulisan ini penulis mencoba memberikan korelasi antara mengurus pesantren dan negara lalu menganalogikan keduanya secara sederhana. Nantinya akan lahir pertanyaan, apakah kita bisa mengurus negara ala pesantren? Diharapkan setidaknya kita bisa mengadopsi beberapa hal positif  yang terdapat di dunia pesantren untuk dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan bernegara.

Pertama, pendidikan yang diajarkan pesantren adalah pendidikan universal, tidak dibatasi belajar secara periodik saja tetapi at-tarbiyah mada al-hayat (pendidikan seumur hidup). Pesantren tidak saja mentransmisi ilmu agama, tetapi lebih menekankan amal nyata. Pembelajaran pun bisa dari alam, peristiwa, dan pengalaman. Dari sana para santri dituntut melakukan perbaikan terus-menerus. Motivasi utamanya “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.”

Pendidikan dengan konsep inilah yang amat perlu diadopsi oleh negara. Para pemimpin harus memberi sugesti kepada rakyat untuk terus belajar tanpa mengenal istilah “tamat”. Toh, bila terpaksa putus sekolah, tidak boleh menjadi alasan berhenti menuntut ilmu.

Kedua, kyai adalah tokoh sentral dalam pesantren. Kyai bukan saja pemimpin pesantren, tetapi qudwah (teladan) bagi jamaah dan masyarakatnya. Dalam mengurus pesantren, kiyai mengedepankan keteladanan berupa amal nyata sebelum memerintahkan sesuatu. “Izh an-naas bi fi’lika wala ta’izhhum bi qaulika!” (nasihati manusia dengan amalmu bukan dengan perkataanmu), kata Imam Al-Hasan Al-Basri.

Seharusnya para pemimpin dan pemegang kekuasaan menjadikan diri mereka layaknya kyai. Artinya sebelum mengintruksikan sesuatu, mereka terlebih dahulu menjalankannya. Mereka adalah teladan bagi rakyatnya layaknya kyai bagi santri dan jamaahnya. Takutnya mereka kepada murka Allah seperti takutnya kyai, bahkan lebih. Sebab, otoritas mereka lebih besar. Tanggung jawab mereka di akhirat tentu lebih berat.

Ketiga, kyai atau ulama adalah ulul amri fi at-tabligh wa al-bayan
(bertanggungjawab dalam penyampaian dan penjelasan) sebagaimana pemimpin atau umara adalah ulul amri fi at-tanfizh wa as-sulthan (pelaksana dan penguasa). Demikian penuturan syaikh Utsaimin dalam Sarh Riyadh As-Shalihin.

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, Rasul-Nya, dan ulul amri di antara kamu.” (QS An-Nisa’ 59). Imam Ali ra menafsirkan, “kewajiban bagi ulul amri adalah memerintah dengan adil dan menunaikan amanah. Bila ia sudah menjalankannya, wajib bagi kaum muslimin mentaatinya. Sebab Allah memerintahkan kita (ulul amri) untuk berlaku adil dan menunaikan amanah. Lalu memerintahkan rakyat untuk taat.

Ulama dan umara memiki peran signifikan bagi rakyat sehingga antara keduanya harus satu visi dan misi. Tidak boleh ada garis demarkasi. Kyai bertugas mengayomi rakyat dengan tausiyahnya. Pemimpin menjamin ketentraman rakyat dengan kekuasaannya. Sebaik-baik umara adalah yang dekat dengan ulama dan sejelek-jelek umara yang jauh dari ulama.

Keempat, kata santri berasal dari bahasa sanskerta, yaitu san artinya orang baik; tra berarti suka menolong. Lembaga tempat belajar itupun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Kaum santri dididik tidak hanya agar mereka berpendidikan saja, tetapi berbudi pekerti dan gemar menolong. Mereka dituntut harus bisa berkontribusi di mana pun mereka berada. Orientasi mereka adaah bermamfaat bagi sesama tanpa memelas upah atau pamrih.

Para penyelenggara negara wajib mengadopsi hal positif ini. Jadikanlah jiwa anda jiwa santri yang banyak memberi dan sedikit meminta. Layaknya santri yang dituntut berkontribusi, para pemimpin pun harus demikian. Mereka harus berjuang menyejahterakan rakyat bukan menyengsarakannya. Mereka bekerja untuk rakyat bukan mempekerjakannya. Mereka memberi rakyat makan bukan malah memerasnya.

Kelima,pesantren hingga kini bisa tetap eksis mengingat kiprahnya hampir ratusan tahun, jauh sebelum republik ini berdiri. Rahasianya adalah karena pesantren dibangun atas dasar keikhlasan yang berbuah keringat. Para kiyai mendidik santrinya dengan nilai tadhiah (pengorbanan) dan khidmah (pelayanan).. Orientasi utamanya adalah menyelamatkan umat dari penghambaan kepada manusia dan materi menuju penghambaan yang tulus kepada Allah SWT saja (Tauhid).

Seandainya para pemimpin kita menganut nilai-nilai positif di atas, niscaya mereka akan tahu diri. Amanah kekuasaan itu adalah sarana untuk bertadhiah dan berkhidmah kepada rakyat. Sehingga tidak pantas mereka menilep uang rakyat lalu memperkaya diri. Tidak layak mereka menyembah materi dan kursi. Tidak patut mereka menuntut gaji lebih sebelum kinerjanya terbukti.

Terakhir, pesantren mengajarkan kemandirian. Sampai saat ini mayoritas pesantren bisa hidup atas hasil keringat mereka sendiri. Mengingat bantuan dari pemerintah amat terbatas, hal itu bukan problem akut. Pesantren semakin giat mendirikan badan-badan usaha untuk melanjutkan eksistensi mereka. Meminta bantuan pemerintah bisa jadi dianggap opsi terakhir, itu pun harus melalui pemotongan dana di sana-sini.

Pemerintah kita seharusnya bisa belajar dari kemandirian pesantren. Sehingga bangsa kita bisa berdiri tegak dengan kaki kita sendiri tanpa perlu menengadahkan tangan mengemis hutang luar negeri. Pesantren pada masa lalu memilih non kooperatif terhadap kepentingan kolonial. Pemerintah kini harus bersikap sama terhadap monopoli asing. Bila pesantren menyerukan jihad menentang kolonialisme, kini pemerintah harus berani berjihad menentang neoliberalisme.

Enam poin di atas adalah potret pesantren dengan kesederhanannnya. Kesederhanaan yang melahirkan para pembesar negeri ini. Agus Salim sebagai diplomat ulung. Muhammad Natsir sebagai perdana menteri. Jendral Sudirman sebagai panglima TNI. Wahid Hasyim sebagai menteri, dan lain-lain. Mereka adalah pemimpin sederhana berjiwa santri. Melalui rahimnya, pesantren tidak pernah lelah melahirkan calon pemimpin yang dibutuhkan negeri ini.

Sudah berbagai macam teori dan konsep yang diikhtiarkan demi menyelamatkan negara ini, tetapi hasilnya tetap gagal. Kenapa kita tidak kembali kepada konsep kita sendiri. Konsep yang relevan dengan kultur rakyat kita. Konsep yang tidak njelimet dan terjaga orisinalitasnya. Yaitu konsep pesantren yang telah teruji keberhasilannya. Wallohu A’lam

Habib Ziadi,
Alumni Ma’ahd Aly isy karima
kini tengah menyelesaikan Khidmah (Pengabdian) selama setahun di
Jayapura Papua. mohon doa

http://www.muslimdaily.net/jurnalis/4996/mengurus-negara-ala-pesantren

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s