Hidupku yang Bermasalah


Boleh ga, sih, mengeluh?

Boleh aja..

Merasa bahwa hidup kok selalu penuh dengan masalah…

Boleh aja..

Karena, pada hakikatnya, emang manusia itu hidup berdampingan dengan masalah. Setiap individu manusia yang masih hidup, pastinya bermasalah. Maka, tak normal jadinya kalau merasa tak bermasalah. Tak normal pula merasa diri ini paling bermasalah.

Yang membedakan antara satu orang dengan yang lain adalah dalam merespon masalah itu. Masing-masing orang punya ilmu dengan kadar yang berbeda-beda dalam menanggapi suatu masalah. Artinya, bisa jadi padahal masalahnya itu sama persis, tapi karena kepemilikan ilmu yang berbeda, membuat nasib mereka jadi berbeda.

Buat satu orang, punya banyak uang mungkin bukan masalah. Tapi buat orang lain, malah mungkin jadi masalah. Ya itu tadi, karena ilmunya berbeda. Yang satu punya illmunya, bagaimana agar menguasai uang, mengendalikannya, sehingga tidak diperbudak uang. Sementara yang satunya bingung, akhirnya malah dikuasai uang, hingga akhirnya uang-uang itu meninggalkan orang itu, karena memang tak mampu mengendalikan.

“Sungguh ajaib sikap seorang mukmin! Karena kondisi apapun menjadi kebaikan baginya. Apabila ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa musibah, ia tetap sabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Jadi, yang terpenting adalah bukan pada seberapa berat masalah itu bagi kita, tapi pada seberapa cerdas kita mengendalikan diri kita dalam meresponnya. Yang membuat kita stress bukanlah masalahnya, tetapi respon kita terhadap masalah itulah yang memunculkan stress.

Maka, memiliki “ilmu kehidupan” menjadi keniscayaan, agar kita menjadi tenang menghadapi segala persoalan kehidupan. Insya Allah, jika kita memiliki ilmu ini, hidup tidak akan berakhir di bawah gedung tinggi, di bawah jurang, di tengah tegukan obat nyamuk, atau di sela-sela jeratan tali jemuran.

Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar. (HR. Bukhari)

Mengapa ilmu agama? Karena ilmu agama adalah satu-satunya ilmu tentang kehidupan. Bukan ilmu sosiologi, karena dia hanya menekankan aspek kemanusiaan. Bukan pula biologi, fisika, atau kimia, karena dia tak mampu menerobos bilah-bilah hati manusia. Bukan dengan menonton acara televisi, menonton lawak, karena mereka hanya memberikan hiburan sesaat, tanpa memberikan penyelesaian masalah kita.

Tapi, jangan lantas berpikir, ilmu agama hanya soal kita dengan Sang Pencipta, atau soal sholat, puasa, hukum syariat.. Ilmu agama lebih dari sekedar ilmu tentang hapalan kita semasa sekolah. Ilmu agama adalah juga tentang kejiwaan, tentang lingkungan, tentang kesopanan, dan juga, tentu saja, tentang kesabaran. Agama bukan cuma tentang aturan lahiriah, tapi juga tentang manajemen batiniah.

Insya Allah, ketika ilmu agama ada dalam genggaman hati, ketika Allah senantiasa menghiasi hati, kesabaran menghadapi masalah akan didapatkan, bahkan pada saat-saat awal ujian itu datang.

“Sesungguhnya, ketabahan yang sejati itu ada pada guncangan pertama kali ketika terjadinya musibah.” (HR. Bukhari)

fadhlijauhari – Purbalingga, 5 Januari 2010

4 responses to “Hidupku yang Bermasalah

    • belajar bareng yuk.. kebutuhan ruh itu sama halnya (bahkan terkadang lebih dari) kebutuhan kita akan makan minum.. harus sepanjang hayat.. klik aja link yang ada di bagian “dikirimi tulisan, dong..” atau klik link-link di “blog roll” dan “link bagus”.. banyak tulisan bermanfaat lainnya..

  1. Assalaamu’alaikuum..

    Hemm…,mungkin menjadi tak berujung jika kita membahas yang namanya Hidup. Jika ada sebuah masalah, Hakikatnya adalah bagaimana kita mengendalikan masalah tersebut (dan aku sependapat banget tentang hal itu), akupun jadi berpikir tentang Hakikat yang lain. Bahwa manusia hidup, hakikatnya adalah untuk bekal pada saat mati…,bekal itu adalah kebaikan didunia…dirunut lagi, kebaikan mendatangkan pahala…,nah kalo kita kaitkan dengan yang disebut sebagai Masalah pada saat hidup, semestinya adalah ketika tidak menghasilkan kebaikan, yang akhirnya tidak punya bekal untuk mati. Tapi lihat disekitar kita, Ya Allah…justru orang-orang baik yang terpinggirkan, kita bilang apa adanya (sbg bentuk kejujuran) dibilang gak beretika…,kita nolak “Amplop”…dibilang Nolak Rejeki, bahkan dibilang Sok Suci (yang justru seringkali bilang adalah mereka yang berkecukupan), padahal saat itu karena kita mendengar bisik lubuk hati kita :”…Itu bukan Hak-mu, Demi Allah…janganlah kau terima, meski dari orang dekatmu”. Kadangkala memang menjadi benar, bahwa Orang Jujur itu tidak punya teman…karena dibilang aneh. Padahal Si Jujur itu tak lain tak bukan adalah karena sedang “Hidup”, yang sedang mencari bekal untuk mati…pun Si Jujur itu sama sekali tidak punya Masalah, karena Si Jujur itu sedang berada di dalam kebaikan…

    Wassalaamu’alaikum

    • wa’alaikumussalam.. waah, subhanallah.. makasih tambahannya yang baik dan banyak ini.. semoga dibalas Allah dengan yang lebih banyak dan lebih baik lagi, ya…

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s