Salah Kaprah Pacaran (bagian 2)


Sebelumnya telah dibahas, bahwa ketika timbul rasa cinta, tak selalu harus pacaran. Dengan alasan, rasa cinta adalah sebagaimana halnya emosi, yang ketika tidak dilampiaskan, tidak akan membunuh manusia. Dia tidaklah sama sebagaimana halnya kebutuhan biologis kita terhadap makan, minum, yang apabila tidak dipenuhi sampai pada panjang waktu tertentu, pasti membawa pada kematian.

Cinta adalah emosi, seperti juga marah, senang, sedih, dan sebagainya, yang – walaupun asalnya dari dalam diri manusia – jika tidak ada pemicunya dari luar, niscaya dia tidak akan muncul.

Maka sekali lagi, pacaran, berduaan dengan kekasih – maksute buat yang belum nikah, hanya akan nambah rasa “kepengin” kepada pasangannya. Dengan ketemuan, janjian, sms-san, telepon-an, yang bahasa kerennya, “menjalin komunikasi”, ini hanya akan menambah dalam rasa “cinta” itu. Saya apit dengan tanda petik, karena buat salah satu dari pasangan itu bisa jadi rasa cinta asli yang mendalam, sedangkan bagi si pacar satunya lagi, bisa jadi cuma nafsu syahwat. Hayo, ngaku…!!!

Jadi, tugas pertama buat yang sudah baca artikel bagian 1, sekarang berlatihlah untuk tidak gampang menuruti kata “hati”. Lihat A kepingin, lihat B juga, lihat C apalagi, lihat D weleh-weleh… (wah, kalau menurut saya, itu sih bisikan nafsu aja yang ga tahan liat “barang bagus”). Cinta tak harus dilampiaskan. Camkan itu dalam hati kita. Cinta juga tak harus memiliki. Dan memang benar, kok.. Kan kasihan kalau kita cinta sama mobil Ferrari, mosok kudu memiliki? Satu aja susah, apalagi “poligami”, hehe… Jadi, biarkan rasa cinta itu muncul sebentar, lalu endapkan saja, kubur bersama makanan yang sudah masuk dalam perut kita. (Duh, kejamnya dikau…)

Salah satu faktor terbesar mengapa kita gampang “jatuh cinta” adalah karena keadaan lingkungan kita juga yang sudah (kalau boleh saya katakan) rusak bin ancur. Bagaimana tidak? Buat yang cowok, mana bisa menahan pandangan kalau di sekelilingnya begitu banyak cewek “berpakaian tapi telanjang”.. Banyak yang baju kaosnya pendek, celana juga ga sampe lutut. G-G-E (baca pakai ejaan pronunciation Bahasa Inggris) tenan…!!

Atau pakaiannya udah rapat, tapi ketat. Jadi ga ada bedanya dengan orang gila yang ke mana-mana pamer aurat. Padahal aurat itu seperti aib, yang boleh tau hanya segelintir orang saja. Jadi kalau pamer aurat sendiri ke orang lain, ya ibaratnya kita sedang menunjukkan aib kita sendiri di depan orang lain. Ga pake malu pula… Itulah kalau udah kemasukan ide gaya hidup orang dunia belahan lain yang ngakunya hidupnya paling modern, padahal pake baju aja ga jauh beda sama orang primitif. (paradoks separadoks-paradoksnya…)

Kalau ada peningkatan kasus jumlah perkosaan, perselingkuhan, video porno amatir, siapa yang harus disalahkan? Cewek? Salah..! Cowok? Salah juga.. Salah semua.. (Jawabannya salah semua, atau maksudnya cewek dan cowok salah dua-duanya? Atau pertanyaannya aja udah salah??)

Nah, hikmah kali ini, mari kita perhatikan bagaimana kita bergaul. Mari susun kerjasama yang saling menguntungkan antara cewek dan cowok. Yang cewek, berpakaianlah yang patut. Rapatkanlah kain baju kalian menutupi tubuh, plus jangan “bohongi baju” kalian dengan pakai baju adek kalian (maksudnya ketat gitu..) Bilangnya sih “pake” baju, tapi kok bentuknya ngepress tubuh. Kan, sama aja dustakan baju.

Entah kalian menganggap ini pujian atau sindiran, tapi yang jelas setiap lekuk tubuh wanita adalah perhiasan. Perhiasan bagi suaminya. Jadi kalau harus dipamerkan sana-sini, mubazir dong punya suami!! Jangan ikut-ikutan cewek lain yang kalian lihat seperti itu. Kita sebenernya kasihan ngeliatnya. Sumpah!

Buat yang udah punya istri, mbok ya punya rasa cemburu, lah, kalau istri sampai berdandan segitunya sama orang lain sedangkan sama suami sendiri malah adem ayem aja. Itu kalau kalian masih normal. Saya sih ga rela kalau punya istri kok malah orang lain yang nimbrung melototin. Apa gunanya kami melangsungkan pernikahan? (eh, tapi sekarang belum, ding..)

Buat yang cowok, mari jangan gampang “jatuh cinta”. Jangan mudah nuruti bisikan syetan. Mata ini tolong dijaga sebaik-baiknya. Dari mata inilah, nafsu itu muncul. Dari matalah kemudian turun ke….. Padahal mata yang normal adalah salah satu nikmat terbesar bagi yang masih memilikinya. Tidakkah kita bersyukur? Ataukah kita ingin Allah mencabut mata ini? Mata ataukah hati ini yang ingin kita butakan, kawan? Mari gunakan mata ini dengan sebaik-baiknya. Jaga dari pandangan tak baik, perbanyak untuk melihat orang-orang yang nasibnya di bawah kita, sehingga “mata hati” ini lebih dan peka.

Maaf, bukan berarti saya tak percaya dengan mereka yang selama ini pacarannya “lurus-lurus aja” (apa maksude??), tapi harus saya katakan, pacaran versi bagaimanapun tak akan mampu menjaga mata dan hati tetap bersih.

fadhlijauhari – Yogyakarta, 28 Desember 2009

2 responses to “Salah Kaprah Pacaran (bagian 2)

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s