Salah Kaprah Pacaran (bagian 1)


Remaja dan pemuda-pemudi saat ini sudah terlanjur diajarkan, bahwa pacaran adalah pilihan terbaik ketika cinta merebak di hati, apalagi kalau  gayung cintanya bersambut. Belum lagi “serbuan” amunisi dari luar. Film remaja, terutama dengan nama-nama aduhai menarik di lidah, seperti lemon tea, ice juice, duh apalagi…. banyak lah pokoknya. Kayanya kalau buat dijual udah laris, tuh. (Hush, emang itu barang jualan..) Lagu-lagu remaja bertema cinta juga bak mandi, eh, maksudnya bak jamur ngerubutin roti udah kadaluarsa, bertebaran di satu titik dan terus menyebar. Entah kalian, tapi saya sepakat untuk mengatakan bahwa mereka ini termasuk bagian dari doktrin keliru binti sesat yang terus disebarkan di negeri ini, terutama lewat televisi. Mengapa televisi?

Televisi adalah media massa paling murah, merakyat, dan efektif secara statistik. Artinya? Berbeda dari sekedar majalah, buku, atau radio, televisi memberikan materi infonya berupa audio dan visual sekaligus. Dan strategi simultan ini efeknya jauh lebih cepat dan mudah terterima oleh otak manusia (bahkan makhluk hidup yang lain). Beberapa penelitian menyebutkan angka 50 – 70 % waktu ditanya berapa diskon harga, eh, maksudnya kisaran info yang masuk dan disimpan dalam otak. Gedhe lho angka segitu! Jamin, dah..

Selain itu, berbagai lagu dan film bertema merah jambu itu, kalau terus dimasukkan ke dalam otak seseorang, sangat mungkin berpengaruh. Boleh jadi film dan lagu yang ditonton berganti-ganti. Tapi kalau temanya sama, ya tetep ngefek lah… Kata Mas Arif S. Sadiman, seperti yang dikutip seorang pengguna Multiply.com,

Frekuensi dan intensitas informasi yang kita peroleh akan menentukan apakah perilaku kita akan terpengaruh oleh informasi tersebut (Thorndike, Law of Repetition). Informasi yang sama, senada atau serupa yang masuk secara berulang-ulang ke dalam diri seseorang akan memberikan pengaruh yang berbeda dengan apabila informasi tersebut hanya diterima sekali. Seringkali tanpa disadari informasi tersebut terinternalisasi ke dalam diri kita dan selanjutnya terealisasikan dalam bentuk perilaku tertentu. Bahkan sesuatu informasi yang salah karena berulang-ulang disampaikan tanpa disadari akan dianggap sebagai suatu kebenaran.

Oke, deh.. Lalu apa yang salah dari pacaran, sih?

Yang harus dimengerti dulu, manusia itu punya kebutuhan biologis, itu pasti. Tapi kebutuhan cinta (dalam artian memiliki pasangan hidup), itu lebih dari sekedar kebutuhan biologis (sepakat??). Kebutuhan kita akan cinta – baik untuk mencintai atau dicintai – tak sedarurat kebutuhan kita akan makan dan minum. Kita ga akan mati walau cinta kita ga berbalas, dan kita juga ga akan mungkin dituntut walau kita ga membalas cinta seseorang.

Cinta adalah salah satu bentuk emosi, seperti halnya sedih, bahagia, marah. Semua orang bisa memunculkannya dengan mudah. Bahkan, banyak yang bilang, “wah, aku kok sering jatuh cinta, ya..!” Playboy/playgirl?? Ga lagi.. Emang wajar.. Cuman, kan ga harus dilampiaskan saat itu juga. Toh cuma bilang kaya tadi di hati misalnya, dan ga disampaikan ke orangnya langsung, itu ga akan membunuhmu. Kita ga melampiaskan marah kita juga toh ga akan membunuh kita.

Buktinya, betapa banyak di dunia ini orang tua tunggal yang dengan tabah menghidupi anak-anaknya, padahal dulu mereka punya pasangan. Betapa banyak orang yang belum menikah, belum pacaran, tapi juga nyawanya ga hilang (itu aku..) Bahkan sampai umur 30 lebih ga menikah, ada yang nyante-nyante aja. Ga punya cinta?? Enak aja.. Mereka juga punya, lho.. Mereka juga pengin.. Tapi mereka mampu mengendalikannya, menahannya supaya tidak sebaliknya (mereka yang dikendalikan cinta – atau lebih tepatnya – nafsu).

Inti dari bagian pertama ini, adalah bahwa cinta tak harus memiliki. Cinta adalah sama seperti emosi manusiawi lainnya, yang bisa jadi gampang muncul, namun sebenarnya bisa dikendalikan. Tak harus segera dipenuhi saat itu juga seperti halnya makan dan minum.

Kesimpulan lainnya, konten atau isi dari televisi Indonesia saat ini adalah sangat berbahaya bagi remaja. Yap! Terutama sekali bagi remaja, calon penerus bangsa…!! Saya bahkan berprasangka buruk, stasiun televisi yang terus saja mempertahankan acara cinta-cintaan itu betul-betul punya niatan merusak masa depan Indonesia dengan merusak aset utama penerusnya, SDM remaja.

sumber:

http://alyssa83.multiply.com/journal/item/2

http://aryansah.wordpress.com/2009/06/06/pengaruh-televisi-pada-remaja/

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=9732

fadhlijauhari – Yogyakarta, 26 Desember 2009

7 responses to “Salah Kaprah Pacaran (bagian 1)

  1. seharusnya MUI atau yang berkepentingan (seperti LSM,terlebih orang tua) menghentikan “ACUH tak acuhnya” terhadap fenomene tayangan televisi.mesti ada kritik dan arahan yang terus menerus,jangan putus.kalo perlu adakan demo damai penolakan tayangan tertentu.

  2. setuju… diamnya masyarakat, terutama yang paham dan punya ilmu, dengan masalah ini, adalah bahaya… minimal harus disuarakan bahwa ada banyak orang yang prihatin dengan acara-acara televisi itu…

  3. Hitam yang akhirnya dipandang putih. Adanya perubahan persepsi itulah sbg salah satu efek/dampak negatif dari tayangan2 tak mendidik di TV, spt: sinetron2 remaja yg menjual mimpi dan cinta nafsu. Artinya semua hal2 yg awalnya dianggap tidak wajar menjadi wajar2 saja. Pacaran yang kelewat bebas, gandengan tangan antar cewe cowo yg belum halal, ciuman, sampe hamil di luar nikah, menjadi pandangan yg biasa, bukan lg suatu yg aneh dan memalukan. Mungkin sekarang ini banyak kalangan yg menganggap aktivitas/hal2 demikian bukanlah aib, melainkan suatu hal yg lumrah, wajar, karena perkembangan zaman, yg telah melunturkan nilai&norma2 agama. Kalau hal2 tsb sudah menjadi hal yg biasa, alhasil lambat laun para generasi muda pun menganggap biasa saja utk melakukannya (pacaran, gandengan, berpelukan, berciuman……maaf terlalu vulgar), sampai akhirnya hilang urat malunya,,,, naudzubillah….

  4. sekedar memberi dukungan,,,kita ga sendirian,sudah banyak yang mendahului kita,dan mereka sekarang sedang menikmati dari hasil kesabaran dan keistikhomahan dalam menjalankan perintah agama…..TETAP ISTIKOMAH !!!!!

    • yap.. kita ga sendirian.. sebenarnya banyak.. hanya saja, yang sedikit dan buruk seringkali tampak lebih jelas.. jumlah orang jahat sebenarnya sedikit.. tapi jumlah yang sedikit ini bisa menonjol, karena yang baik tak pernah menunjukkan dirinya…

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s