Berharap, boleh, kan? (mode: eksplanasi)


Sebetulnya udah banyak dari kita yang faham, yang namanya berharap kepada manusia itu harus siap dengan segala resikonya. Dikecewakan lah, diabaikan lah, ditinggalkan lah, dan berbagai lah-lah yang lain yang membuat kita berkeluh kesah. Tuuh, kan… Udah banyak yang faham… Lalu kenapa masih berharap?? Selesai masalahnya, kan?

Oke lah.. Memang harus to the point.. Kalau masalah berharap akan jodoh, itu boleh aja. Tapi pertanyaannya, kenapa hanya bisa berharap?

Kalau memang memungkinkan, bukannya langsung bertindak itu lebih baik?

Kalau sudah bertindak, dan permintaan kita ternyata diterima dan diridhoi Allah, alhamdulillah. Bersyukurlah…

Kalau belum mampu bertindak, maka tepislah rasa berharap itu. Karena memang belum saatnya.. Ga bisa?

Masalahnya, kita berharap, sedangkan kita tak mampu.. Bagai pungguk merindukan rembulan.. Maka buatlah diri ini menjadi mampu terlebih dulu, baru berharap lagi, kemudian bertindak.. Buatlah roket dulu, baru berharap terbang ke bulan..

Kalau sudah bertindak, dan permintaan kita ditolak, innalillaahi wa inna ilaihi raji’uun. Bersabarlah… Itulah yang sudah diputuskan Allah untuk kita.. Dan, seharusnya, tak perlu kita kecewa. Kalau dalam hati kita kecewa, itu artinya kita masih berharap..

Dan kalau kita masih berharap sedangkan tumpuan harapan itu udah ga bisa lagi dijadikan tumpuan, berarti ada yang berlebihan dalam diri kita.

Pertanyaannya, kenapa bisa sampai berlebihan? Karena kita sendiri yang melebih-lebihkannya…

Awalnya perasaan itu cuma biasa aja, kecil, tak seberapa. Tapi kita suburkan dengan tindakan-tindakan kita sendiri. Kita buat lingkungan menjadi semakin mendukung kesuburan perasaan itu. Bahkan ketika harapan itu sudah ditolak mentah-mentah (atau matang-matang???), kita masih saja menyuburkan perasaan. Kitalah yang melebih-lebihkan perasaan itu sehingga ketika perasaan itu harus kita netralkan seperti biasa, kita bilang, “mustahil”, “susah”, dsb.

Solusinya, yaa tinggalkan semua perbuatan yang membuat pikiran kita terpusat padanya. Tinggalkan juga lingkunngan yang mendukung perasaan itu. Kemauan untuk mengurangi kelebihan perasaan ini harus dibantu dengan dorongan rasa ikhlas dari dalam hati. Tak ada artinya semua usaha itu kalau hati kita masih tidak ikhlas.

Kita yang lebih tau, perbuatan kita yang mana saja yang menyuburkan perasaan kita. Atau kalau belum tau, yaa sebenarnya hal-hal yang remeh. Mulai dari memandang wajahnya terlalu lama, apalagi dengan penuh penghayatan, itu tak baik. Dari mata turunnya ke hati. Kalau udah dinikahi, bolehlah dinikmati. Tapi kalau belum halal, syetan yang akan mengelilingi. Makanya buat para pria atau wanita, jangan terlalu banyak bergaya di depan kamera. Kalau kebanyakan gaya, syetan yang akan me-make-up wajah kita di depan orang-orang yang menaruh harapan pada kita itu tadi.. Sejelek apapun akan jadi tampak indah… Bahkan walaupun orangnya udah ga kita lihat, tapi bayangannya tetap ada dalam pikiran. Cocok sekali dengan apa yang diucapkan Rasulullah saw. Panah beracun kalaupun sudah dicabut dari tubuh seseorang, tapi racunnya akan segera menyebar.

Pandangan itu adalah panah beracun di antara panah iblis, siapa yang meninggalkannya karena takut kepadaKu maka akan Aku gantikan dengan keimanan, yang ia dapatkan manisnya di dalam hatinya (HR ath-Thabrani dan al-Hakim)

Lalu komunikasi-komunikasi yang tak perlu, seperti curhat masalah pribadi, bercanda, atau sekedar menanyakan kabar, tinggalkanlah. Ini terlihat tak perlu dikhawatirkan, sepele, dan remeh, tapi kalau dilakukan antara dua orang beda jenis, bukan mahram, dan relatif sering (misal sehari sekali bisa jadi cukup bagi seseorang untuk menyuburkan perasaan, atau bagi yang lain seminggu sekali bahkan mungkin sudah cukup).

Tertambatnya hati pada sesuatu yang tidak jelas harapannya (apalagi kalau udah jelas-jelas ga ada) adalah kekeliruan.

Ketidakjelasan harapan itu adalah karena memang salah satu dari kita belum memperjelas posisi. Maka kalau memang kita sudah merasa mampu dalam berbagai hal, perjelaslah posisi itu, menikahlah. Inilah yang akan menyelamatkan keduanya.

Kalau posisi salah satu dari kita sudah jelas, dan hasilnya ternyata ga sesuai harapan, permintaan kita ditolak, maka tak perlu lagi mengemis harapan. Bersabarlah, karena itu lebih baik bagi hati kita. Bukan malah terus memaksa mengharap, dengan beralasan “cinta tak bisa dihapus”. Kitalah yang mempersulit diri sendiri. Tak mungkin menyalahkan Allah, apalagi menyalahkan orang itu.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka…. (QS 33: 36)

Sibukkan diri, tundukkan pandangan, beraktivitas yang banyak, ingat kejelekan-kejelekan orang itu, agar kita bisa mengerem rasa harap ini dari keterjerumusan yang lebih dalam.

Yogyakarta, 21 Oktober 2009, menjelang dzuhur

-fadhlijawharie-

TInggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s