Susahnya Bersyukur

Secara sederhana, bersyukur bisa dilakukan dengan sekadar perbuatan lisan, yaitu mengucapkan terima kasih. Bersyukur adalah bukti bahwa kita mengakui dengan rendah hati terhadap peran pihak eksternal sehingga kita mendapatkan suatu keuntungan. Dengan bersyukur, kita mengakui bahwa kita tidak dapat melakukan sesuatu secara sempurna tanpa bantuan pihak luar tersebut. Lawan dari kata syukur adalah ingkar (kufur), yang berarti kita tidak mau mengakui keberadaan peran pihak luar dalam keuntungan yang kita dapatkan. Seseorang yang ingkar berarti dia merasa sombong, tidak merendahkan hati untuk mengakui ada kontribusi pihak luar. Atau, lebih keras lagi, dia seakan tidak mengakui keberadaan pihak luar tersebut.

Bersyukur

gambar dari riahidayah.blogspot.com

Maka, kembali lagi, terima kasih adalah perbuatan bersyukur yang termurah yang bisa dilakukan seseorang. Seberapa seringkah kita mengucapkan terima kasih kepada orang lain atas perbuatan baik mereka kepada kita? Seberapa seringkah kita mengakui bahwa kita tak mampu mendapatkan kebaikan dalam hidup ini jika tak ada bantuan dari orang lain? Adalah pilihan bagi seseorang untuk memberikan bantuan kepada orang lain, tapi bersyukur terhadap bantuan orang lain adalah kewajiban. Seseorang yang tak mampu bersyukur sehingga alpa mengucap terima kasih untuk orang lain bisa jadi merupakan salah satu kegagalan dia sebagai manusia.

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu. (QS An Nisaa’: 86)

Ayat ini menerangkan tentang penghormatan, terutama dalam hal salam. Seseorang yang diuluk salam, “Assalaamu’alaikum,” maka dia wajib menjawab minimal serupa, “Wa’alaikumussalaam,” atau bahkan lebih baik jika dilanjutkan, “warahmatullaahi wabarakaatuh.” Dan dalam konteks perbuatan baik, bukankah seseorang yang berbuat baik terhadap kita juga paling tidak “memberikan penghormatan” terhadap “keberadaan” kita sebagai sesama manusia yang sedang bergaul dengannya?

Itu adalah gambaran syukur dalam tataran hubungan manusia. Dalam tataran hubungan dengan Sang Pencipta, bersyukur yang paling utama dan paling mendesak untuk dilakukan terlebih dahulu adalah bersyukur dengan cara mengakui keberadaan Sang Pencipta Tunggal di balik alam semesta. Sebagaimana kita mengakui bahwa orang lain juga punya kontribusi terhadap nikmat yang kita peroleh, kita juga harus mengakui bahwa nikmat yang berupa alam semesta ini tentu berasal dari “kontribusi” Penciptanya. Alam ini tidak mampu “berada” sendiri, sebagaimana nikmat yang kita peroleh tak mungkin tiba-tiba datang sendiri.

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu. (QS Ar Ra’d: 2)

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran: 191)

Maka, MENGAKUI adalah tahapan syukur yang paling “primitif”. Orang yang tidak mampu mengakui, tidak akan mampu bersyukur.

Beberapa golongan umat manusia sudah mampu bersyukur kepada Penciptanya dengan cara mengakui keberadaan-Nya. Tapi mereka tak mampu membuktikan ucapan syukurnya. Mereka hanya mengucap di lisan, tetapi gagal mengamalkan. Banyak orang yang percaya keberadaan Allah sebagai Pencipta Tunggal, tetapi mereka tak membangun hubungan yang baik dengan Allah swt. Betapa banyak di antara kita yang sudah dibantu orang lain tetapi tetap bertindak dan bersikap negatif kepada mereka. Kita hanya senang dibantu, mengucap terima kasih, tapi setelah itu selesai. Kira-kira, seperti itu juga hubungan kita dengan Allah swt.

Kita mengakui keberadaan-Nya, tetapi enggan berada dalam jalan yang bisa menghubungkan kita dengan Allah swt. Setiap hari kita diberikan nikmat yang tak bisa kita rinci semuanya satu per satu, bahkan tanpa kita minta, tapi cuma sampai di situ interaksi kita. Masih untung sempat mengucap syukur kepada Allah swt, tapi kaki kita terasa berat untuk kita langkahkan di jalan yang Dia inginkan. Kita diberi tanpa kita minta, karena memang Allah memberikan yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Tapi sedikit sekali di antara kita yang bahkan sampai pada pikiran yang demikian, sehingga selalu merasa Allah tak adil terhadap kita. Sedikit sekali dari kita yang bersyukur.

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.(QS Al A’raaf: 10)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS An Nahl: 78)

Perbuatan syukur tertinggi adalah dengan memanfaatkan segala nikmat itu untuk kebaikan. Sumber Daya Alam Semesta ini, nikmat jasmani ini, semua selayaknya dimanfaatkan untuk kebaikan, dan itulah yang Allah harapkan dari kita sebagai khalifah di muka bumi, sebagai rasa syukur kita terhadapnya. Jangan sampai kita dipalingkan dan dijerumuskan, karena kita menyombongkan diri terhadap-Nya.

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.(QS Al A’raaf: 146)

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya.