Perjalanan ke Tegal

MASJID AGUNG KOTA TEGAL_JPG

Saya dan Andi, teman satu hobi, berangkat dari Yogyakarta hari Sabtu (17/10) untuk menuju Tegal. Dengan naik bus Efisiensi, kami meninggalkan terminal Giwangan Yogyakarta pada pukul 08.30 pagi itu.

Kami tidak langsung ke Tegal. Kebetulan saya asli Purbalingga, jadi saya ajak mas Andi untuk mampir di rumah saya sebentar, baru kemudian melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah, kami sampai di kota Perwira ini pada pukul 13 siang. Setelah sholat Dzuhur dan ‘Ashar dijamak qashar di Masjid Agung Darussalaam Purbalingga, kami pun singgah untuk sekedar makan siang di rumah.

Disambut ibu dan bulik, makan siang plus obrolan ringan, kami merasa bertenaga kembali. Tadinya kami berencana naik motor. Namun ibu ternyata menelepon saudara di Tegal, dan kami akhirnya mendapat tumpangan untuk menginap barang beberapa hari. Kami pun naik bis. Ada dua pilihan, naik dari Purwokerto lalu langsung ke Tegal. Atau naik dari Purbalingga, turun di Pemalang, dan lanjut dengan bis menuju Tegal.

Berangkat dari Purbalingga pukul 14.30, sampai di Pemalang jam 17. Lalu sampai di Tegal sekitar 45 menit kemudian. Total sekitar tiga jam. (Jadi penasaran, bagaimana seandainya perjalanan dilakukan dari Purwokerto…)

Ternyata kesannya lumayan berbeda dari yang dibayangkan. Dari Purbalingga ke Pemalang, jalanan yang dilewati terasa begitu sempit, cuma ngepas untuk dua bis saja. Itu juga belum ditambah dengan berhenti sejenak di Kecamatan Belik (alias ‘ngetem’).

Lalu dengan pengetahuan nol tentang kota Pemalang dan Tegal, kami pun turun di terminal Pemalang. Di sana kami menunggu bis jurusan manapun – yang penting melewati Tegal. Kebetulan ketika kami sampai terminal, satu bis besar juga sampai di situ. Kondektur pun menanyakan tujuan kami. “Tegal,” begitu jawab saya. Mereka pun segera menawari kami. Ya sudah, karena saya juga ingin segera sampai, saya putuskan naik, diikuti mas Andi.

Kata bulik, sepupu ibu saya yang tinggal di Tegal, nanti bilang ke kondekturnya turun di Rumah Sakit Texin. Ya, saya akan bilang begitu nanti kalau sudah ketemu kondekturnya.

Nah, ketika kondektur meminta bayaran, saya agak terkejut. Bukan terkejut karena perasaan lucu atau gimana, hanya aneh saja. Karena yang berdiri di hadapan saya saat itu seorang muda berperawakan agak pendek (kalau orang bilang, mungkin “cebol”), dengan mata menunjukkan rasa tak bersahabat. Saya simpulkan tak bersahabat, karena memang itu yang saya rasakan. Bahkan terkesan seperti agak mabuk atau pusing caranya berdiri dan berjalan.

Saya pun membayar, dan menitipkan pesan kepadanya untuk diingatkan kalau sudah dekat RS Texin, karena di situ kami akan turun. Jujur, saya bersyukur karena uang yang saya bayarkan pas, karena beberapa penumpang lain ternyata kurang, dan harus menghadapi raut muka kondektur itu yang makin tampak aneh dan tak bersahabat, menagih tambahan ongkos.

Tapi jujur pula, saya jadi tak yakin, akankah dia ingat permintaan saya tadi tentang RS Texin, karena tak ada satu pun kata meluncur, bahkan sekedar isyarat anggukan kepala. Yang ada yaa itu tadi, hanya muka dingin tak bersahabat, dengan tatapan mata seperti orang mengantuk dan malas. Wah, gimana ini, batin saya khawatir.

Ditambah dengan suasana bis ekonomi yang serba ‘umpek-umpekan’, perasaan saya tambah ga nyaman.

Tapi alhamdulillah, mas kondektur itu ternyata ingat juga. Sebelum sampai di RS Texin, dia mengingatkan saya dan mas Andi, lalu menyuruh kami berpindah ke depan. Syukurlah. Dan kami pun turun, menunggu jemputan dari bulik.