Hidup yang Berarti

Manusia memang makhluk teristimewa. Dia makhluk yang oleh Allah diberikan kebebasan memilih. Apapun yang ingin ia lakukan, bisa ia lakukan saat itu juga. Tidak ada yang bisa mencegahnya untuk berbuat sesuatu selain dirinya sendiri, walau mungkin seabrek peraturan ada di sekelilingnya saat itu. Dan biasanya, yang paling “semangat” kalau dikatakan “bebas” adalah anak muda..

Saat seseorang menjadi pemuda, dia bisa memilih. Apakah dia hanya akan menjadi pengikut tren di masanya hidup, tanpa mau berpikir panjang.  Tanpa peduli apakah yang ia ikuti itu baik atau buruk. Ataukah dia mau sedikit bekerja keras untuk berbeda dari yang lainnya. Sedikit memanfaatkan waktunya untuk merenung, untuk apa masa muda itu akan ia habiskan.

Karena masa muda tak akan kembali. Banyak yang mengalami penyesalan ketika tua, karena di masa mudanya tak banyak berbuat yang berguna. Kebanyakan jamaah di masjid pun bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah tidak dalam usia produktif. Di mana mereka sewaktu muda? (Ya, saya tak tahu.. kan waktu mereka muda, saya belum lahir..)

Pemuda bisa saja memilih hidup yang biasa saja seperti yang lainnya. Menjadi anak sekolah, bergaul bersama teman, pergi bersama, menjadi pendengar setia lagu-lagu populer, lalu terkadang menyanyikannya di depan teman-temannya sewaktu istirahat, mengetahui kabar-kabar artis terbaru, berharap dianggap “anak gaul”, “ga ketinggalan berita”, dll..

Tapi, kemudian, untuk apa itu semua? Kalau sudah dianggap “anak gaul”, lalu apa selanjutnya?

Hidup yang berarti bukan yang seperti itu. Hidup yang berarti adalah ketika kita bisa memberi nilai atas keberadaan kita di dunia ini. Kita tidak sekedar “hidup” begitu saja. Lahir, sekolah, menikah, beranjak tua, lalu mati. Tidak sesederhana itu. Kita hidup atas satu alasan yang mendasar, dan atas satu tujuan yang besar…

Segala sesuatu butuh alasan. Kita menonton acara televisi, dan tak menggantinya untuk beberapa lama, tentu ada alasannya. Mungkin karena memang bagus, lucu, dsb. Kita mencintai suami/istri kita, haruslah ada alasannya. Rupawan, baik hati, penyabar, dsb. Kita beragama Islam, tentu juga harus ada alasannya, bukan cuma karena warisan dari orang tua. Bukan karena diajarkan dan dihapalkan dari kecil. Dan kita hidup pun juga atas sebuah alasan.

Ilmuwan beraktivitas di laboratorium pun pasti ada alasannya. Ramuan yang dia ciptakan ada tujuan pemakaiannya. Motor, mobil, dan pesawat, semua diciptakan untuk tujuan tertentu. Begitu juga hidup kita..

Dan remaja adalah saat di mana usia manusia sampai dalam tahap pencarian tujuan hidup itu.. Sudahkah kita menemukan tujuan hidup kita? Atau, sudahkah kita setidaknya berusaha untuk menemukannya?

Untuk apa dia bergaul dengan teman-temannya? Apa yang dia cari dari pertemanan itu? Apa yang dia cari dari sekolah? Mengapa dia harus sekolah? Mengapa dia mau sekolah? Mau ke mana dia setelah sekolah? Tidakkah dia tahu bahwa dirinya selalu diincar kematian? Mau ke mana dirinya setelah mati? Apa yang sudah dia siapkan untuk mati? Apa yang bisa orang lain banggakan dari dirinya setelah dia mati? Kebaikannya? Keindahan fisiknya? Banyaknya teman? Banyaknya harta dan perhiasan?

Maka beruntunglah yang mau merenung sejenak untuk mencari alasan kenapa dia hidup, untuk apa dia hidup, mau ke mana dia dalam hidup ini. Karena segala sesuatunya akan dipertanggungjawabkan. Allah Maha Teliti atas apa yang kita kerjakan. Dia tidak main-main. Seharusnya kita juga tak main-main..

let’s find the reason…

Hiduplah yang Berarti… Get a Life!!galaxy

& Komentar

  1. Iwan Dragon berkata,

    09/11/2009 pada 5:00 pm

    apakah anda orang islam yang sedang mendalami ilmu sejati?
    hidup mencari sang hidup dan arti hidup.
    lalu apa cukup sampai disitu?
    dimana tuhan?
    siapa tuhan?

    • Ibnu Jauhari berkata,

      11/11/2009 pada 1:49 pm

      saya sudah menemukan kebenaran di dalam islam.
      karena itu, saya ingin orang lain juga merasakan ketenangan batin ini.
      kehidupan akan tetap berlanjut tentu saja.
      tapi perbedaan dalam ketenangan batin ini lah yang membuat orang-orang berbeda satu sama lain dalam merespon setiap peristiwa hidup yang menimpa mereka.
      ketika menerima islam, itu tak menjamin seseorang akan selalu senang, atau sukses. musibah mungkin akan tetap menjumpai orang itu. tapi ketenangan batin yang ia rasakan di dalam islam membuat dia mampu menghadapi musibah dengan bijaksana. suatu ketika dia sukses, berada di “puncak kehidupan” pun, dia akan mengendalikannya dengan bijaksana.
      saya bahagia dengan islam. apa yang saya cari ada di sini.


Tulis sebuah Komentar