Ilmu dan Kebahagiaan

Dalam bukunya, Tasauf Modern, Prof. Hamka pernah menyalin sebuah artikel karya Al-Anisah Mai berjudul ”Kun Sa’idan”. Artikel itu diindonesiakan dengan judul: ”Senangkanlah hatimu!” Dalam kondisi apa pun, pesan artikel tersebut, maka ”senangkanlah hatimu!” Jangan pernah bersedih. Dalam kondisi apa pun. ”Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit….” ”Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang selalu menimpa orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepada engkau lagi, lantaran kemiskinanmu…” ”Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacatmu…” ”Kalau tanah airmu dijajah atau dirimu diperbudak, senangkanlah hatimu! Sebab penjajahan dan perbudakan membuka jalan bagi bangsa yang terjajah atau diri yang diperbudak kepada perjuangan melepaskan diri dari belenggu.”

Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah, yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Tapi, apakah yang dimaksud bahagia? Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka, bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Maka, setelah dia dapat, dia menjadi pecinta harta. Toh, setelah harta melimpah ruah, kebahagiaan itu pun tak kunjung menyinggahinya. Harta yang disangkanya membawa bahagia, justru membuatnya resah. Hidupnya penuh porblema. Masalah demi masalah membelitnya. Tak jarang, harta justru membawa bencana. Kadang, harta yang ditumpuk-tumpuk, menjadi ajang konflik antar saudara. Sebagian orang mengejar kebahagiaan pada diri wanita cantik. Dia menyangka setelah mengawini seorang wanita cantik, maka dia akan bahagia. Tapi, tak lama kemudian, bahtera rumah tangganya kandas. Di depan sorot kamera, tampak mempelai begitu bahagia, bersanding wanita cantik. Namun, kecantikan sering menjadi fitnah dan kemudian membawa bencana. Pujian yang bertabur dari umat manusia tak membuatnya bahagia.

Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sebab, kekuasaan memang sebuah kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan seseorang dapat berbuat banyak. Tapi, betapa banyak manusia yang justru hidup merana dalam kegemilangan kekuasaan. Dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan, setelah kuasa di tangan. Sebelum memegang kuasa, senyuman sering menghiasai bibirnya. Namun, setelah kuasa di dalam genggaman, kesulitan dan keresahan justru menerpanya, tanpa henti.

Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan! Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan! Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan! Orang biasa menyangka bahagia terletak pada kepopuleran! Dan sangkaan-sangkaan lain…

Tapi, sesungguhnya, kebahagiaan bukanlah terletak pada itu semua. Semua kenikmatan duniawi bisa menjadi tangga yang mengantar kepada kebahagiaan. Semuanya adalah sarana. Bukan bahagia itu sendiri. Lihatlah, betapa banyak pejabat yang hidupnya dibelit dengan penderitaan. Lihat pula, betapa banyak artis terkenal yang hidupnya jauh dari kebahagiaan dan berujung kepada narkoba dan obat penenang! Jika demikian, apakah yang disebut”bahagia” (sa’adah/happiness).

Selama ribuan tahun, para ahli pikir, telah sibuk membincang tentang kebahagiaan. Kamus The Oxford English Dictionary (1963) mendefinisikan ”happiness” sebagai: ”Good fortune or luck in life or in particular affair; success, prosperity.” Jadi, dalam pandangan ini, kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersifat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka, menurut pandangan ini, tidak ada kebahagiaan yang abadi, yang tetap dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia.

Prof. Naquib al-Attas menggambarkan kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: “Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.” Tokoh panutan mereka adalah Sisyphus, yang selalu berusaha mendorong batu ke atas bukit. Tapi, ketika batu sudah sampai di atas bukit, digelindingkannya kembali batu itu ke bawah. Kemudian, dia dorong lagi, batu itu ke atas. Begitu seterusnya. Tiada pernah berhenti. Itulah perumpamaan tentang kondisi batin masyarakat Barat yang menganut paham relativisme dan tidak mengenal kebenaran pada satu titik tertentu. Ketika sampai pada satu tahap tertentu, dia kembali menghancurkan dan mencari lagi. Mereka selalu dalam pencarian. Tidak akan pernah puas. Laksana meminum air laut. Jika sudah mendapatkan satu gunung emas, mereka akan mencari lagi gunung emas yang kedua.

Berbeda dengan pandangan tersebut, Prof. Naquib Al-Attas mendefinisikan kebahagiaan (sa’adah/happiness) sebagai berikut:

”Kesejahteraan” dan ”kebahagiaan” itu bukan dianya merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan akal-fikri insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam fikiran dan nazar-akali belaka. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan Hakikat Terakhir yang Mutlak yang dicari-cari itu – yakni: keadaan diri yang yakin akan Hak Ta’ala – dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri itu berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.” (SMN al-Attas, Ma’na Kebahagiaan dan Pengalamannya dalam Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC:2002), pengantar Prof. Zainy Uthman, hal. xxxv).

Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati, yang dipenuhi dengan keyakinan (iman), dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya, meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampong halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.

Imam al-Ghazali, seperti dikutip Hamka dalam Tasaud Modern, mengungkapkan: ”Bahagia dan kelezatan yang sejati, ialah bilamana dapat mengingat Allah.” Hutai’ah, seorang ahli syair, menggubah sebuah syair:

(Menurut pendapatku, bukanlah kebahagiaan itu pada pengumpul harta benda;
Tetapi, taqwa akan Allah itulah bahagia).

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ”ma’rifatullah”, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:
”Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu ialah bila kita rasai nikmat kesenangan dan kelezatannya, dan kelezatan itu ialah menurut tabiat kejadian masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dari tubuh manusia. Ada pun kelezatan hati ialah teguh ma’rifat kepada Allah, karena hati itu dijadikan ialah buat mengingat Tuhan…. Seorang hamba rakyat akan sangat gembira kalau dia dapat berkenalan dengan wazir; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan pula dengan raja. Tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan, lebih dari apa yang dapat dikira-kirakan oleh manusia, sebab tidak ada yang maujud ini yang lebih dari kemuliaan Allah… Oleh sebab itu tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah.”

Ma’rifatullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan, bahwa ”Tiada Tuhan selain Allah” (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ”ayat-ayat-Nya”, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah. Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri. Alam semesta ini adalah ”ayat”, tanda-tanda, untuk mengenal Sang Khaliq. Maka, celakalah orang yang tidak mau berpikir tentang alam semesta.

Di samping ayat-ayat kauniyah, Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa ”Tiada tuhan selain Allah”, dan bersaksi bahwa ”Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam.” Risalah kenabian Muhammad saw telah menyempurnakan risalah para nabi sebelumnya.

Inilah yang disebut sebagai ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan Islam, harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati, yang terkait antara dunia dan akhirat. Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta’dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang bayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri, dan sebagainya. Tetapi, apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal dan bahagia beribadah kepada Sang Pencipta.

Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya bahagia dalam keimanan dan keyakinan; yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh setiap keadaan. Dalam kondisi apa pun, hidupnya bahagia, karena dia sudah mengenal Allah, ridha dengan keputusan Allah, dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.
Dalam kondisi apa pun, dalam posisi apa pun, manusia semacam ini akan hidup dalam kebahagiaan. Fa laa khaufun ’alaihim wa laa hum yahzanuun. Hidupnya hanya mengacu kepada Allah, dan tidak terlalu peduli dengan reaksi manusia terhadapnya. Alangkah indah dan bahagianya hidup semacam itu; bahagia dunia dan akhirat.

Karena itu, kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Iqbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Karena itu, kata penyair besar Pakistan ini, hilangnya keyakinan dalam diri seseorang, lebih buruk dari suatu perbudakan.

Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacam itu; hidup dalam keyakinan; mulai dengan mengenal Allah dan ridha menerima keputusan-keputusan-Nya, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita ingin, bahwa kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar.

Mudah-mudahan, Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin. (Depok, 6 Rabi’ulawwal 1429 H/14 Maret 2008).

adianhusaini.com

dapet tugas: Ulil Albab, orang-orang yang berakal

galaksi

besarnya ciptaan Allah yang satu ini.. (eh salah, yang bermilyar-milyar ini..)

Frase Ulil Albab setidaknya disebutkan dalam Al Quran sebanyak dua belas kali. (itu yang saya temukan secara manual yang menggunakan frase “ulil albab”.. bisa jadi lebih.. atau dengan kata yang berbeda namun sepadan maknanya..)

QS Al Ma`idah: 100. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”

QS Ibraahiim: 52. (Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.

QS Ali ‘Imran: 190-191. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

QS Al Baqarah: 197. (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

QS Al Baqarah: 179. Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.

QS Ar Ra’du: 19. Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.

QS Ali ‘Imran: 7. Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

QS Yusuf: 111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

QS Az Zumar: 18. yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.

QS Az Zumar: 21. Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.

QS Qaaf: 37. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.

QS Ath Thalaq: 10. Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu,

Maka, orang-orang yang berakal akan selalu berpijak kepada pedoman ilahi dalam setiap pemanfaatan akalnya, dan mereka tidak melampaui batas di dalamnya. Semoga kita dimasukkan dalam golongan Ulil Albab. Amiin..

dapet tugas: Islam agama paling benar (dalil)

Ayat-ayat Quran yang berhubungan dengan kebenaran islam

QS Al Baqarah (2): 256. Tidak ada paksaan dalam (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

QS Ali ‘Imran (3): ayat 19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

QS 3: 83. Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

QS 3: 85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

QS Al Maidah (5): 3. ….Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

QS Al Hajj (22): 78. ….Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia,

QS An Nuur (24): 55. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

QS Ar Ruum (30): 30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

QS Az Zumar (39): 22. Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Hadits tentang islam

Sesungguhnya bermula datangnya Islam dianggap asing (aneh) dan akan datang kembali asing. Namun berbahagialah orang-orang asing itu. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud orang asing (aneh) itu?” Lalu Rasulullah menjawab, “Orang yang melakukan kebaikan-kebaikan di saat orang-orang melakukan pengrusakan.” (HR. Muslim)

——####——

Agak susah nyari hadits tentang kebenaran islam. Mungkin saya yang kurang teliti nyarinya.. Umumnya, hadits hanya berisi penjelasan dari Al Quran dan dari hukum-hukum yang sifatnya masih perlu dirinci. Sedangkan kebenaran Islam sebagian besar sudah diterangkan dengan sangat jelas dalam Alquran, sehingga yang termuat dalam hadits hanyalah perincian masalah akhlaq atau ibadah baik ibadah vertikal kepada Allah maupun kepada sesama manusia (Muamalah).

Jadi, ya hadits yang menerangkan tentang kebenaran islam hampir ga ada.. maksudnya, karena rata-rata hadits itu merupakan penjelasan Rasulullah tentang masalah-masalah di dalam agama islam sendiri.. sifatnya lebih khusus..

wallahu a’lam.. mungkin ada yg lebih tau..

-fadhli-

Lomba Pamrih

Ikhlas, kata yang ga asing buat orang Indonesia.. tapi seringnya salah kaprah.. sedikit melenceng, tapi udah beda..
Kebanyakan dari masyarakat memahaminya sebagai padanan makna dari “rela”, “pasrah”, atau “ringan hati”.. Hampir bener, sih.. tapi tetep aja bukan arti yang sebenarnya..

Kata sebagian orang, ikhlas berarti ga mencari pamrih..
Tapi, justru, ikhlas itu harus pamrih.. Cumaan.. cuman, nih.. Cuman pamrihnya semata-mata kepada Allah…
Lha emang boleh?
Wah, malah emang harus gitu.. Di kala ada banyak orang, pamrihlah kepada Allah.. apalagi di kala sendiri, harusnya jauh lebih mudah memusatkan pamrih kepada Allah..

Ada atau ga ada manusia di sekitar kita, pamrih hanya kepada Allah..
Ada atau ga ada pujian, yang penting Allah Maha Teliti akan apa yang kita kerjakan..

Kita sedang bekerja di sebuah perusahaan.
Perusahaan itu bernama “PT Kehidupan”.
Dan sebagai karyawan, sudah sepantasnya kita mematuhi peraturan kerja yang ada di dalam perusahaan itu. Toh kita sudah diberikan kontrak kerja. Sudah ada jaminan, siapa di antara kita yang bekerja paling baik, akan diberikan kedudukan yang baik juga.. Upah akan kita terima jika bekerja dengan baik.. Sanksi mesti kita jalani jika berbuat kesalahan..

Maka mari berlomba dalam kebaikan, demi kemuliaan di Sisi Sang Pemilik Kehidupan…
fastabiqul khairat..

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS 6: 162)

syukron ustadz, atas kultum singkatnya…

26 Oktober 2009, 07.00 WIB
-fadhlijawharie-

balapan, yuh..

balapan, yuh..

Jalan Terjal Kebahagiaan (road to happiness)

756861216237866Kebahagiaan tidak tergeletak sembarangan di dunia ini..

Ada banyak hal yang menyelimuti kebahagiaan sehingga hanya sedikit orang yang mampu menyingkapnya..

Hanya sedikit orang. Dan mereka tidaklah akan mampu menyingkapnya melainkan dengan pengetahuan.

Kebahagiaan bukan hal yang mustahil untuk diperoleh di dunia ini. Dan siapa saja bisa memperolehnya. Tidak akan dibatasi. Tidak akan dihalangi. Tapi, kesalahan itu ada pada diri kita sendiri. Kita telah bersalah karena mematok jalan menuju kebahagiaan menurut diri kita sendiri. Kita merasa paling tahu. Dengan cara kita sendiri, kita definisikan kata bahagia itu. Tanpa mau membuka pikiran lebih luas lagi, kita tentukan sendiri cara-cara untuk menggapai kebahagiaan itu.

Padahal tidak.

Kebahagiaan bukan hal yang bisa dimaknai secara gamblang. Kebahagiaan, (lagi-lagi) bukan tentang “hasil”. Bukan pula tentang “perasaan”.

Orang yang bahagia, jelas bukanlah mereka yang punya uang banyak, pasangan hidup yang rupawan, atau yang sering tampil di acara infotainment. Orang yang bahagia, bukan pula yang sehari-hari selalu tertawa dan tersenyum. Belum tentu juga, orang yang menangis dan selalu kesusahan adalah orang yang paling tidak bahagia. Kebahagiaan adalah tentang “proses”.

Seandainya saya katakan, orang yang bahagia adalah orang yang masuk surga, sepakatkah? (tell me if anyone disagree…)

Kalau memang kita tahu dan yakin sepenuhnya bahwa surga adalah tempatnya orang-orang yang bahagia, tidakkah kita juga menginginkannya? Kalau kita semua menginginkannya, MAUkah kita menempuh jalan menujunya? Mau?

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (QS 29: 2, dan 64)

Sesungguhnya, orang yang mengangankan kehidupan yang serba enak dan santai, mereka ada dalam keadaan yang tertipu..

Berharap, boleh, kan? (mode: obrolan)

Berharap, boleh, kan?

Yap, boleh-boleh aja. Silakan. Semaumu, deh. Tapi ga boleh berlebihan, ya..

Kenapa?

Yaa, karena segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik.

Misalnya?

Yang namanya berlebihan itu, biasanya awalannya “terlalu” atau imbuhannya “ke-an”.

Dan semuanya pasti ga baik. Terlalu rendah, terlalu tinggi, itu dua-duanya ga baik. Yang baik, ya yang pertengahan, yang pas. Terlalu gelap, terlalu terang, itu juga dua-duanya ga baik. Terlalu gemuk, terlalu kurus, terlalu banyak, terlalu sedikit. Kokehan (kebanyakan), kecepetan (terlalu terburu-buru), dll.

Tapi, gimana menentukan sesuatu itu dikatakan berlebihan? Kan, tiap orang pasti beda-beda ngukurnya…

Ada hal-hal yang udah punya nilai ukur secara jelas, dan ada pula yang nilai ukurnya diserahkan kepada manusia itu sendiri…

Makin ga jelas. Kasih contoh…

Misalnya, yang udah jelas ukurannya, ya seperti tingkat keislaman seseorang. Ada batasan kapan seseorang masih bisa dikatakan sebagai muslim, juga kapan dia dikatakan melanggar batasan itu sehingga dikatakan udah keluar dari Islam.

Atau dalam kesehatan, para ahli kesehatan udah punya ukuran angka yang mereka sepakati dalam menilai apakah seseorang itu terlalu gemuk, gemuk, normal, kurus, atau terlalu kurus.

Atau contoh dalam keseharian, kalau kita menyajikan minum untuk tamu, biasanya udah ada ukuran “tak tertulis” seberapa banyak air minum kita tuang dalam satu gelas. Walaupun tak pasti, tapi kita biasanya punya batasan, kapan air minum itu terlihat tampak terlalu banyak, atau sebaliknya, masih perlu kita tambah sedikit lagi.

Terus, yang ga bisa diukur?

Yang ga bisa diukur, ini sangat kuat hubungannya dengan perasaan. Sedih, marah, senang, tertawa, termasuk juga rasa benci dan cinta, semua sebenarnya ada batasan kapan itu dianggap masih wajar, kapan udah dinilai “terlalu” atau berlebihan.

Ya, berarti boleh, kan, berharap?

Yo boleh.. boleh banget.. itu wajar.. kita boleh memiliki perasaan apapun.. kita boleh memunculkan perasaan apapun.. Eit, tapi, tunggu dulu… Ini berharap sama siapa, nih?

Yah, masa nyebut nama orang, sih.. Ya malu, dong…

Bukan, maksudnya, berharapnya itu sama sesama manusia, atau sama Allah…?? Maksudnya, kalau kita berharap kasih sayang dari Allah, wah, itu malah wajib. Berharap ampunan, berharap masuk surga-Nya, berharap perlindungan dari siksa-Nya, itu wajib.

Mmm… ini berharap sama manusia, sih… Atau, kalau terus dibilang, berharap sama Allah agar bisa dekat dengan seseorang, itu boleh, ga?

Yaa, artinya, kita berharap sama Allah agar kita didekatkan dengan seseorang, begitu? Ya boleh aja.. Tapi, ya itu tadi, ga boleh berlebihan…

Terus, gimana caranya ngukur kita udah berlebihan atau belum selama kita berharap ini?

Perasaanmu yang lebih paham…

Maksudnya?

Rasa berharap ini munculnya dari hati, maka hati itulah yang seharusnya mengukur diri, sebanyak apa dia mesti mengeluarkan rasa berharapnya kepada seseorang.. Hati itu yang harus punya ukuran. Hatinyalah yang harus mengetahui batasan…

Batasan apa? Dari mana hati kita tahu ada batasan-batasan itu?

Hati itu ibarat logam. Dia bisa dibentuk sedemikian rupa kalau ditempa, diasah, diukir. Jika logam itu udah dibentuk jadi lurus, lalu diberi angka-angka, dia bisa jadi alat ukur yang baik.

Tak cuma mengukur, tapi juga menilai, karena hati manusia diberi bekal fitrah keimanan. Dia udah tahu apakah sesuatu itu baik atau buruk baginya, dengan hati yang fitrah keimanannya udah terasah.

Fitrah keimanan itulah yang mestinya diasah, sehingga hati kita paham batas-batas perasaan itu. Fitrah keimanan itu yang jadi penilai, apa hati kita masih dalam batas kewajaran mengharap sesuatu dan seseorang di dunia ini, atau udah kelewat berharap.

Hati yang masih bersih itu kayak timbangan berat badan yang masih bekerja dengan baik, angkanya kecetak jelas, dan hasil ukurnya akurat. Sedangkan iman yang terasah itu seperti sistem kesepakatan dokter ahli kesehatan yang memberitahukan apakah hasil timbangan berat badan itu berpengaruh baik atau buruk bagi pasien yang baru saja ditimbang.

Yodah.. yodah.. panjang banget penjelasannya.. Pokoknya, intinya, kesimpulannya, boleh berharap tapi ga berlebihan, gitu?

Ya, begitu.. O ya, temenku pernah bilang, tiga proses dasar dalam setiap usaha manusia: Doa, usaha, dan tawakkal…

Apa hubungannya sama rasa berharap?

Oow ada, tentu…Berharap itu mirip berdoa.. Karena pada dasarnya, berharap itu kan “jeritan hati”. Kita tentu “menjerit” karena ingin “didengar”… Iya, kan?

Iya, tapi kan berharapnya sama Allah, ga sama orangnya langsung.. Jadi, orangnya kan ga denger…

Bukan gitu.. Kan setidaknya, kalau kita ga ingin “didengar” siapapun, tapi kan Allah Maha Mendengar.. Itu berarti kita memanjatkan jeritan harapan itu sama Allah.. Kita secara ga langsung, berdoa kepada Allah, meminta agar jeritan hati ini Allah perhatikan..

Iya, sih… Terus, hubungannya dengan tiga itu tadi.. apaan?

Kalau kita cuma berharap saja, tanpa berusaha dan tawakkal, ya berarti ada yang keliru dengan cara kita berharap… Kita berharap untuk memiliki sesuatu atau seseorang yang SUDAH PASTI SELAMANYA (setidaknya selama hidup di dunia yang fana ini) bukan milik kita (karena segala sesuatu – dan seluruh manusia – adalah milik Allah)… artinya, hanya ada dua kemungkinan, kita dititipi atau dipinjami sesuatu/orang itu (ga mungkin diserahi), atau kita tidak dipinjami sama sekali… sampai di sini dulu, masih bisa dipahami?

Iya, masih..masih…

Nah, artinya lagi, bukan hak kita untuk menentukan hasil dari pengharapan kita selama ini… kita harus menyerahkan hasil pengharapan itu HANYA kepada Allah… kita harus siap dengan segala kemungkinan… karena pada prinsipnya, orang itu juga bukan milik kita.. kita ga boleh menuntutnya seolah dia itu kepunyaan kita pribadi… dia milik Allah… dan Allah yang Maha Kuasa menentukan jalan hidupnya… dan jalan hidup kita tentunya…

Makanya tadi dijelaskan, rasa berharap itu jangan sampai berlebihan…

Kalau rasa berharap itu muncul karena cinta yang berlebihan, wajib bagi kita untuk menahan, mengurangi, syukur-syukur menetralkan..

Ha? Menetralkan? Enak banget bilangnya….!!

Menetralkan dengan menghilangkan itu kan beda.. Mengerikan kalau rasa cinta hilang dari hati manusia, bisa saling caci maki bahkan bunuh membunuh.. Menetralkan berarti kita memberikan rasa cinta SAMA seperti kita memberikannya kepada orang lain, kepada sahabat kita, saudara kita, tanpa ada pembedaan, tanpa pengkhususan, atau pengistimewaan.

Berarti salah dong, selama ini… Kayanya rasa berharap ini terlalu berlebihan… terlalu menuntut… Mosok bisa dikurangi, sih? Susah, laah…

Perasaan yang muncul dalam hati itu seperti tanaman yang muncul dari tanah… Baik itu marah, sedih, gembira, cinta, benci, semua bisa tumbuh dan dipelihara di dalam hati, seperti halnya semua tanaman bisa dikembangbiakkan dari tanah.

Ketika kita diusili orang lain, bibit kemarahan muncul dari dalam hati. Tapi untuk menyuburkan, memupuk, dan menumbuhkannya menjadi pohon kemarahan yang besar, itu adalah pilihan. Kita, kan bisa saja tidak memupuknya, tidak memperdulikannya, atau malah segera mencabut dan membuang bibit amarah itu dari hati kita. Itu terserah kita. Kita bisa saja menuruti amarah kita dengan membuatnya mewujud jadi nyata, misalnya tangan kita jadi entengan (alias mukul atau ngapain yang mengekspresikan kemarahan). Atau sebaliknya, kita pendam dan kubur perasaan amarah itu dalam-dalam, sambil menyadari, misalnya, kadang-kadang kita juga sering bikin orang itu marah.

Lha kalau rasa cinta, rasa rindu? Gimana? Masa kita kubur.. Emangnya mayat? Salah, ya?

Bukan rasa cinta atau rindunya yang kita salahkan.. Tapi waktu munculnya yang ga tepat. Kita rindu dan cinta sama orang yang statusnya masih haram buat kita.. Ingat, HANYA pernikahan yang disebut sebagai hubungan yang halal antara dua orang laki perempuan bukan mahram. Bukan tunangan, karena mereka belumlah benar-benar resmi menikah. Apalagi pacaran… Sori baen, lah, yaw… semua ini status hubungan yang salah kaprah, yang kebanjur udah menjamur di dunia, akibat cekokan budaya serba bebas dan serba semau diri sendiri ala barat.. Rasa cinta jadi barang murahan, ga beda sama nafsu hewani.

Sementara, kalau udah nikah, rasa cinta dan rindu itu bisa saling dipamerkan karena memang mereka udah halal satu sama lain. Pernikahan. Cuma itu bingkai yang halal bagi dua orang berlawanan jenis dan bukan mahram satu sama lain. Soalnya, memang dengan wadah mangkok bernama pernikahan, dua makhluk beda setrum bisa secara puas saling setrum-setruman. Halal, dan berpahala pula. Entah itu bentuk setrumannya berupa canda, tawa, bujuk, rayu, dan sebagainya yang sifatnya nyetrum, lah…

Ya, aku ga pacaran, koq…

Iya, bukan masalah pacaran atau ga. Masalahnya, bibit cinta tertanam dalam hati kita pada waktu yang salah, tapi kita malah menyuburkannya.. Kita memupuknya.. Kita menghiasi tanaman cinta itu.. Akhirnya, kita malah bangga dengan tanaman cinta yang sedemikian indah itu.. Semua itu kita lakukan di saat dia belum halal menjadi milik pribadi ini…

Perasaan berharap itu kita lebih-lebihkan ketika dia belum tentu menjadi titipan yang Allah serahkan bagi kita…

Yang bikin tanaman itu makin membesar, adalah kita membiarkan lingkungan di sekitarnya semakin mendukung.. Kitalah yang membawa tanaman itu ke lingkungan yang cocok.. Matahari yang cerah, curah hujan yang berkecukupan, dan berbagai faktor penyubur lainnya.

Hwaduh.. Ga ngerti, ah…

Maksudnya, kamu suburkan perasaan di dalam hatimu dengan perbuatan yang kamu lakukan selama ini. Kamu sms dia setiap hari, kamu telepon, bahkan kalau smsmu ga dia balas, kamu kirimi pulsa segala.. Belum lagi lingkungan di sekitarmu yang terus mengobarkan rasa berharapmu kepada orang itu.. Kamu putar lagu-lagu cinta.. Kamu tonton sinetron-sinetron berkisah asmara.. Kamu sendiri yang menyuburkan perasaan itu…

Yaa, gimana lagi? Ga bisa dihindari, kan…

Tentu bisa.. Kan sudah dijelaskan, ini semua pilihan… Ada pendukung kesuburan, maka ada penghambat kesuburan… Carilah penghambat kesuburan itu..

Kurangi interaksimu dengannya, terus kurangi sampai perasaanmu mengatakan ga ada perlunya lagi untuk berkomunikasi dengannya. Karena sesungguhnya, kalaupun ada, itu bukan keperluan. Itu cuma alasan dari seribu alasan yang syetan bisikkan ke dalam hati.

Kurangi juga mendengarkan lagu dan menonton film yang bisa mengembalikan banjirnya perasaan berharap itu. Karena yang demikian juga salah satu wujud bisikan syetan. Ini semua tergantung wujud usaha keras dari pilihan yang kita ambil.

Kata temanku lagi, kalau ada kemauan, pasti ada seribu jalan. Kalau ga ada kemauan, pasti ada seribu alasan.

Kebaikan atau keburukan hidup kita ga tergantung sama orang itu. Tidak mesti tanpa orang itu di sisi kita, hidup kita akan menjadi lebih buruk. Tidak mesti pula dengannya di sisi kita, hidup akan menjadi lebih baik. Allah lebih Mengetahui apa-apa yang tidak kelihatan dari sisi hidup kita, dan Maha Bijaksana dengan segala ketetapan-Nya.

“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa (tidak ada yang bisa menghalangi ketetapan-Nya kalau sudah berlaku) lagi Maha Bijaksana (di balik ketetapan-Nya)”. (QS 8: 49, lihat juga QS 9: 59)

Kalau memang orang itu ditetapkan bagimu, itulah ketetapan dari Allah yang Maha Bijaksana. Kalau dia ga ditetapkan untukmu, itu juga ketetapan dari-Nya. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Bijaksana.

…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2: 216)

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta dipilihkan dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau Mengetahui, sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau Mengetahui bahwa urusan ini (menyebutkan persoalannya) lebih baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya terhadap diriku – atau – Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: …di dunia atau akhirat – maka tetapkanlah pilihan ini untukku, mudahkan jalannya, kemudian berkahilah pilihan ini. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa pilihan ini buruk bagiku, dalam agama, kehidupan, dan akibatnya kepada diriku, maka jauhkan pilihan ini dariku, dan jauhkan aku darinya, takdirkan yang terbaik bagiku di manapun itu, kemudian Ridhoilah aku di dalamnya.”

Amiin…

Yogyakarta, 21 Oktober 2009, 01.00 WIB

-fadhlijawharie-

Berharap, boleh, kan? (mode: eksplanasi)

Sebetulnya udah banyak dari kita yang faham, yang namanya berharap kepada manusia itu harus siap dengan segala resikonya. Dikecewakan lah, diabaikan lah, ditinggalkan lah, dan berbagai lah-lah yang lain yang membuat kita berkeluh kesah. Tuuh, kan… Udah banyak yang faham… Lalu kenapa masih berharap?? Selesai masalahnya, kan?

Oke lah.. Memang harus to the point.. Kalau masalah berharap akan jodoh, itu boleh aja. Tapi pertanyaannya, kenapa hanya bisa berharap?

Kalau memang memungkinkan, bukannya langsung bertindak itu lebih baik?

Kalau sudah bertindak, dan permintaan kita ternyata diterima dan diridhoi Allah, alhamdulillah. Bersyukurlah…

Kalau belum mampu bertindak, maka tepislah rasa berharap itu. Karena memang belum saatnya.. Ga bisa?

Masalahnya, kita berharap, sedangkan kita tak mampu.. Bagai pungguk merindukan rembulan.. Maka buatlah diri ini menjadi mampu terlebih dulu, baru berharap lagi, kemudian bertindak.. Buatlah roket dulu, baru berharap terbang ke bulan..

Kalau sudah bertindak, dan permintaan kita ditolak, innalillaahi wa inna ilaihi raji’uun. Bersabarlah… Itulah yang sudah diputuskan Allah untuk kita.. Dan, seharusnya, tak perlu kita kecewa. Kalau dalam hati kita kecewa, itu artinya kita masih berharap..

Dan kalau kita masih berharap sedangkan tumpuan harapan itu udah ga bisa lagi dijadikan tumpuan, berarti ada yang berlebihan dalam diri kita.

Pertanyaannya, kenapa bisa sampai berlebihan? Karena kita sendiri yang melebih-lebihkannya…

Awalnya perasaan itu cuma biasa aja, kecil, tak seberapa. Tapi kita suburkan dengan tindakan-tindakan kita sendiri. Kita buat lingkungan menjadi semakin mendukung kesuburan perasaan itu. Bahkan ketika harapan itu sudah ditolak mentah-mentah (atau matang-matang???), kita masih saja menyuburkan perasaan. Kitalah yang melebih-lebihkan perasaan itu sehingga ketika perasaan itu harus kita netralkan seperti biasa, kita bilang, “mustahil”, “susah”, dsb.

Solusinya, yaa tinggalkan semua perbuatan yang membuat pikiran kita terpusat padanya. Tinggalkan juga lingkunngan yang mendukung perasaan itu. Kemauan untuk mengurangi kelebihan perasaan ini harus dibantu dengan dorongan rasa ikhlas dari dalam hati. Tak ada artinya semua usaha itu kalau hati kita masih tidak ikhlas.

Kita yang lebih tau, perbuatan kita yang mana saja yang menyuburkan perasaan kita. Atau kalau belum tau, yaa sebenarnya hal-hal yang remeh. Mulai dari memandang wajahnya terlalu lama, apalagi dengan penuh penghayatan, itu tak baik. Dari mata turunnya ke hati. Kalau udah dinikahi, bolehlah dinikmati. Tapi kalau belum halal, syetan yang akan mengelilingi. Makanya buat para pria atau wanita, jangan terlalu banyak bergaya di depan kamera. Kalau kebanyakan gaya, syetan yang akan me-make-up wajah kita di depan orang-orang yang menaruh harapan pada kita itu tadi.. Sejelek apapun akan jadi tampak indah… Bahkan walaupun orangnya udah ga kita lihat, tapi bayangannya tetap ada dalam pikiran. Cocok sekali dengan apa yang diucapkan Rasulullah saw. Panah beracun kalaupun sudah dicabut dari tubuh seseorang, tapi racunnya akan segera menyebar.

Pandangan itu adalah panah beracun di antara panah iblis, siapa yang meninggalkannya karena takut kepadaKu maka akan Aku gantikan dengan keimanan, yang ia dapatkan manisnya di dalam hatinya (HR ath-Thabrani dan al-Hakim)

Lalu komunikasi-komunikasi yang tak perlu, seperti curhat masalah pribadi, bercanda, atau sekedar menanyakan kabar, tinggalkanlah. Ini terlihat tak perlu dikhawatirkan, sepele, dan remeh, tapi kalau dilakukan antara dua orang beda jenis, bukan mahram, dan relatif sering (misal sehari sekali bisa jadi cukup bagi seseorang untuk menyuburkan perasaan, atau bagi yang lain seminggu sekali bahkan mungkin sudah cukup).

Tertambatnya hati pada sesuatu yang tidak jelas harapannya (apalagi kalau udah jelas-jelas ga ada) adalah kekeliruan.

Ketidakjelasan harapan itu adalah karena memang salah satu dari kita belum memperjelas posisi. Maka kalau memang kita sudah merasa mampu dalam berbagai hal, perjelaslah posisi itu, menikahlah. Inilah yang akan menyelamatkan keduanya.

Kalau posisi salah satu dari kita sudah jelas, dan hasilnya ternyata ga sesuai harapan, permintaan kita ditolak, maka tak perlu lagi mengemis harapan. Bersabarlah, karena itu lebih baik bagi hati kita. Bukan malah terus memaksa mengharap, dengan beralasan “cinta tak bisa dihapus”. Kitalah yang mempersulit diri sendiri. Tak mungkin menyalahkan Allah, apalagi menyalahkan orang itu.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka…. (QS 33: 36)

Sibukkan diri, tundukkan pandangan, beraktivitas yang banyak, ingat kejelekan-kejelekan orang itu, agar kita bisa mengerem rasa harap ini dari keterjerumusan yang lebih dalam.

Yogyakarta, 21 Oktober 2009, menjelang dzuhur

-fadhlijawharie-

Perjalanan ke Tegal

MASJID AGUNG KOTA TEGAL_JPG

Saya dan Andi, teman satu hobi, berangkat dari Yogyakarta hari Sabtu (17/10) untuk menuju Tegal. Dengan naik bus Efisiensi, kami meninggalkan terminal Giwangan Yogyakarta pada pukul 08.30 pagi itu.

Kami tidak langsung ke Tegal. Kebetulan saya asli Purbalingga, jadi saya ajak mas Andi untuk mampir di rumah saya sebentar, baru kemudian melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah, kami sampai di kota Perwira ini pada pukul 13 siang. Setelah sholat Dzuhur dan ‘Ashar dijamak qashar di Masjid Agung Darussalaam Purbalingga, kami pun singgah untuk sekedar makan siang di rumah.

Disambut ibu dan bulik, makan siang plus obrolan ringan, kami merasa bertenaga kembali. Tadinya kami berencana naik motor. Namun ibu ternyata menelepon saudara di Tegal, dan kami akhirnya mendapat tumpangan untuk menginap barang beberapa hari. Kami pun naik bis. Ada dua pilihan, naik dari Purwokerto lalu langsung ke Tegal. Atau naik dari Purbalingga, turun di Pemalang, dan lanjut dengan bis menuju Tegal.

Berangkat dari Purbalingga pukul 14.30, sampai di Pemalang jam 17. Lalu sampai di Tegal sekitar 45 menit kemudian. Total sekitar tiga jam. (Jadi penasaran, bagaimana seandainya perjalanan dilakukan dari Purwokerto…)

Ternyata kesannya lumayan berbeda dari yang dibayangkan. Dari Purbalingga ke Pemalang, jalanan yang dilewati terasa begitu sempit, cuma ngepas untuk dua bis saja. Itu juga belum ditambah dengan berhenti sejenak di Kecamatan Belik (alias ‘ngetem’).

Lalu dengan pengetahuan nol tentang kota Pemalang dan Tegal, kami pun turun di terminal Pemalang. Di sana kami menunggu bis jurusan manapun – yang penting melewati Tegal. Kebetulan ketika kami sampai terminal, satu bis besar juga sampai di situ. Kondektur pun menanyakan tujuan kami. “Tegal,” begitu jawab saya. Mereka pun segera menawari kami. Ya sudah, karena saya juga ingin segera sampai, saya putuskan naik, diikuti mas Andi.

Kata bulik, sepupu ibu saya yang tinggal di Tegal, nanti bilang ke kondekturnya turun di Rumah Sakit Texin. Ya, saya akan bilang begitu nanti kalau sudah ketemu kondekturnya.

Nah, ketika kondektur meminta bayaran, saya agak terkejut. Bukan terkejut karena perasaan lucu atau gimana, hanya aneh saja. Karena yang berdiri di hadapan saya saat itu seorang muda berperawakan agak pendek (kalau orang bilang, mungkin “cebol”), dengan mata menunjukkan rasa tak bersahabat. Saya simpulkan tak bersahabat, karena memang itu yang saya rasakan. Bahkan terkesan seperti agak mabuk atau pusing caranya berdiri dan berjalan.

Saya pun membayar, dan menitipkan pesan kepadanya untuk diingatkan kalau sudah dekat RS Texin, karena di situ kami akan turun. Jujur, saya bersyukur karena uang yang saya bayarkan pas, karena beberapa penumpang lain ternyata kurang, dan harus menghadapi raut muka kondektur itu yang makin tampak aneh dan tak bersahabat, menagih tambahan ongkos.

Tapi jujur pula, saya jadi tak yakin, akankah dia ingat permintaan saya tadi tentang RS Texin, karena tak ada satu pun kata meluncur, bahkan sekedar isyarat anggukan kepala. Yang ada yaa itu tadi, hanya muka dingin tak bersahabat, dengan tatapan mata seperti orang mengantuk dan malas. Wah, gimana ini, batin saya khawatir.

Ditambah dengan suasana bis ekonomi yang serba ‘umpek-umpekan’, perasaan saya tambah ga nyaman.

Tapi alhamdulillah, mas kondektur itu ternyata ingat juga. Sebelum sampai di RS Texin, dia mengingatkan saya dan mas Andi, lalu menyuruh kami berpindah ke depan. Syukurlah. Dan kami pun turun, menunggu jemputan dari bulik.

Jodoh kok Maksa..??

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)… (QS 24: 26)

Ini ayat yang secara gamblang menjelaskan bagaimana konsep jodoh secara hakiki. Artinya, hal ini bisa terjadi dalam kehidupan nyata, tapi juga ga selalu. Tinggal bagaimana realitas manusia dalam mengusahakannya menjadi nyata.

Satu hal yang penting adalah, kita tidak boleh memaksakan seseorang untuk menjadi jodoh kita. Seolah kita yang paling paham, dialah jodoh paling tepat buat kita. Hal ini tidaklah baik karena itu berarti kita sudah memaksakan sesuatu yang menjadi ketetapan dari Allah.

Akibat dari “pemaksaan jodoh” ini sangat buruk. Kita bisa tenggelam dalam apa yang banyak orang disebut “jatuh cinta” plus “cinta buta”. Segala sesuatu menjadi dilakukan hanya untuknya. Beraktivitas, beribadah, bahkan berdoa, selalu hanya untuknya. Entah sekedar mendoakan kebaikan untuknya, sampai mendoakan dia menjadi jodoh kita (ini juga termasuk bentuk pemaksaan itu tadi). Berdoa yang benar seharusnya menyerahkan sepenuhnya pada Allah. “Jika dia berjodoh denganku, maka dekatkanlah. Jika tidak, maka berikan dari sisi-Mu yang lebih baik.”

Kalau kita memaksakan seseorang menjadi jodoh kita, pokoknya kalau bukan dia, tidak jadi, maka ini akan menyebabkan hati kita menjadi berpenyakit. Bisa timbul prasangka buruk kepada Allah apabila keinginan kita tidak terpenuhi. Hati jadi kecewa. Bahkan dalam banyak kasus sampai bunuh diri. Ini adalah akibat terlalu berlebihan dalam mencintai seseorang, sehingga cinta terhadap Sang-Pencipta-perasaan itu sendiri malah lenyap.

Yang lebih penting adalah, kita berusaha untuk menjadi yang ‘baik-baik’ itu tadi, sehingga Allah menghadiahi kita jodoh yang selevel dengan kita, insya Allah. Sebaliknya kalau kita memang tidak mau berusaha keras mengubah diri menjadi lebih baik, ya mungkin jodohnya memang pantasnya yang sedemikian itu pula bagi kita. Lagipula, secara nalar, mana mau calon kita yang super-lebih-baik (di mata kita) itu punya jodoh seperti kita. Kitanya ga akan kuat, dan dianya juga normalnya ga akan pernah mau berdampingan dengan kita (kecuali kalau dia bisa mengubah kita).

Dan masalah lain, jangan sampai kita merasa yang paling tahu kriteria ‘baik-baik’ itu. Karena tentu saja yang paling tahu makna ‘baik-baik’ itu pasti hanya Allah. Dengan demikian, kita harus cari tahu kriteria-kriteria apa yang menurut Allah ‘baik-baik’, sehingga Allah mau memberikan yang ‘baik-baik’ juga untuk kita. Ini tiada lain hanya bisa diketahui dengan menuntut ilmu, terutama ilmu-ilmu agama. Tidak mungkin Allah menginginkan seseorang menjadi baik melainkan dengan memahamkannya dalam ilmu agama.

Sesungguhnya apabila Allah menghendaki kebaikan dalam kehidupan seseorang, ia akan difahamkan dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar. (H.R. Imam Bukhori)

…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama... (QS 35: 28)

Ulama di sini adalah dari para hamba-hamba-Nya yang memiliki ilmu, yang memahami kebesaran dan kekuasaan Allah.. (Tafsir Ibnu Katsir)

Di satu sisi, kita harus menjadi ‘baik-baik’ sesuai kriteria-Nya, dan di sisi lain, kita juga harus sadar sepenuhnya kelak, bahwa insya Allah yang menjadi pendamping kita itu juga sudah merupakan yang ‘baik-baik’ menurut Allah.

…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2: 216)

Tidak ada seorang pun yang sempurna, pun jodoh kita kelak..

Wallahu a’lam..

(yang masih terus berusaha memperbaiki diri sendiri.. dan berharap bahwa perbaikan diri ini menjadi mahar yang paling berharga baginya (???)… kelak… insya Allah…)

-fadhli ibnu jawharie-Muslim Couple

Lafalkan Perasaanmu

Wa ammaa bi ni’mati robbika fahaddits…

Dan adapun nikmat dari Tuhanmu, ucapkanlah..

Ada juga yang mengartikan sebut-sebutkanlah…

Adalah kebiasaan yang baik untuk menyebutkan dengan lisan kita, ucapan syukur kita, setiap kali nikmat Allah sampai.

Sebenarnya bukan cuma syukur. Tapi juga ketika mengalami berbagai peristiwa, kita diajarkan untuk senantiasa mengucap lafal Allah.

Berjalan di tanjakan, Allahu akbar..

Menuruni jalan, Subhanallah..

Bersin, Alhamdulillah..

Memulai sesuatu kebaikan, atau makan, Bismillah..

Biasakan ucapan-ucapan seperti itu.. Sehingga orang2 di sekitar kita tertular.. Terutama juga kepada anak-anak.. Sehingga anak-anak terbiasa berucap kalimat-kalimat baik.. Bukan yang buruk, yang mereka dapatkan dari lingkungan luar.. Mulailah dari keluarga sendiri…

Inilah cara yang paling baik untuk mengingat Allah, sambil berdakwah, mensyiarkan Islam secara mudah…

« Entri lama